Alfatihah.com – Manusia bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya selama di dunia. Terkadang muncul pertanyaan terkait mengapa manusia harus bekerja jika semua yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan. Pertanyaan seperti itu muncul karena seperti yang diketahui bahwa Allah dikenal maha kaya dan juga maha pemberi rezeki.
Allah telah menegaskan dalam Al-Quran pada QS. Fathir: 15 bahwa Allah tidak membutuhkan apapun dari manusia, melainkan manusialah yang membutuhkan Allah termasuk dalam urusan rezeki.
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
Artinya: “Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
Rezeki yang manusia terima memang datangnya dari Allah. Namun, dalam hal ini Allah tidak menyuruh manusia hanya berdiam diri saja untuk menunggu rezeki dari Allah. Manusia bekerja serta diperintahakan untuk melakukan usaha dan ikhtiar. Jika kita ingin mendapatkan sesuatu maka diperintahkan untuk berusaha secara sungguh-sungguh terlebih dahulu.
Dalam Islam tidak diajarkan untuk seseorang menjadi pemalas dengan berdalih karena takdir dibaliknya. Seperti yang diperintahkan pada QS. At-Taubah: 105
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”
Allah menyuruh manusia untuk bekerja dan juga beribadah di dunia. Kehidupan di dunia dan akhirat haruslah seimbang, mengingat akhirat agar manusia tidak dibutakan oleh dunia dan berusaha di dunia agar tidak dimakan oleh majunya dunia. Setiap usaha yang dilakukan selalu diawasi dan dinilai oleh Allah.
Berusaha saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan tawakal, begitupun sebaliknya. Manusia bekerja juga bisa menjadi ibadah baginya jika niat yang dilakukan baik dan dengan cara yang jujur. Pekerjaan yang dilakukan bukanlah untuk menipu seseorang dan juga tidak menzalimi seseorang.
Allah menjamin rezeki kepada setiap makhluknya. Rezeki yang mereka dapat memanglah dari Allah melalui usaha yang telah mereka lakukan. Manusia diperintahkan untuk bergerak mencari dan memanfaatkan potensi di muka bumi ini.
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
Artinya: Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (QS. Al-Mulk: 15)
Kehidupan yang kita jalani di dunia merupakan tempat ujian. Pekerjaan yang kini sedang kita jalani, harta serta penghasilan yang kita dapat merupakan bagian dari ujian tersebut. Ketiga hal tersebut menjadi sarana untuk menguji kesabaran, kejujuran, kesabaran, serta rasa syukur kita sebagai manusia.
Manusia bekerja agar terhindar dari sikap malas dan bergantung pada orang lain. Manusia diberi kemampuan untuk berpikir dan juga tenaga yang dapat digunakan untuk berusaha. Kesehatan dan kesempatan bekerja yang Allah berikan merupakan nikmat dari Allah agar manusia menggunakannya untuk berusaha dan senantiasa bersyukur.
Itulah pembahasan mengenai mengapa manusia bekerja padahal Allah maha kaya. Meskipun Allah maha kaya, manusia tetap diwajibkan untuk bekerja karena bekerja termasuk bagian dari perintah Allah dan akan bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Perlu untuk kita ingat jika tidak ada orang sukses tanpa bekerja, berusaha, dan berdoa.
Penulis: Lintang Suryaningrum