Alfatihah.com – Fenomena ketindihan saat tidur merupakan salah satu kejadian yang terkadang membuat sebagian orang merasa ketakutan dan kebingungan bahkan tak jarang mengaitkannya dengan hal-hal yang sifatnya mistis.
Ketika sedang tidur terlelap tiba-tiba badan terasa menjadi berat dan dada bisa sesak karena ketindihan. Sebenarnya, fenomena ketindihan ini penjelasannya seperti apa? Apakah hal tersebut memang berkaitan dengan hal mistis atau bisa dijelaskan lewat medis dan sains? Mari simak penjelasannya lebih lanjut!
Fenomena ketindihan tidak akan mengenal waktu karena bisa terjadi saat pagi hari, siang hari, sore hari, atau malam hari saat seseorang sedang tertidur lelap. Dalam ilmu sains, ketindihan disebut juga dengan sleep paralysis.
Sleep paralysis merupakan gangguan tidur pada seseorang yang dimana otak bangun terlebih dahulu namun kunci tubuhnya belum bangun. Sehingga, seseorang yang mengalami sering kali terjebak antara tidur maupun bangun.
Hasilnya adalah otak memiliki kesadaran secara penuh namun tubuh belum siap untuk bangun sehingga mengalami kelumpuhan sementara.
Tak hanya itu, dalam beberapa kasus yang terjadi fenomena ketindihan juga bisa disertai dengan halusinasi dan ketakutan seperti melihat sosok atau bayangan yang menyeramkan. Kasus lainnya juga membuat seseorang kesulitan bernafas, seperti mendapatkan bisikan atau merasakan sosok makhluk halus sedang mengajak komunikasi.
Dari segi Islam, fenomena ketindihan bisa disebabkan karena seseorang mengalami mimpi yang buruk karena jin dan setan bisa mengganggu manusia melalui alam mimpi.
Hal itu pernah dijelaskan dalam salah satu hadits Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah SAW bersabda:
الرؤيا الصالحة من الله، والحلم من الشيطان، فإذا رأى أحدكم ما يكره فلينفث عن يساره ثلاثا، وليتعوذ بالله من الشيطان ومن شر ما رأى ثلاثاً، ثم ينقلب على جنبه الآخر، فإنها لا تضره ولا يخبر بها أحداً
Artinya: “Mimpi yang baik itu dari Allah. Sedangkan mimpi yang buruk itu dari setan. Jika salah seorang dari kalian bermimpi yang tidak ia sukai, maka hendaknya ia meniup ke sebelah kirinya tiga kali dan membaca ta’awwudz sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu hendaknya ia membalik tubuhnya ke sisi yang lain, dengan demikian tidak ada lagi yang membahayakan dan jangan ceritakan kepada seorang pun mimpi tersebut” (Hadits Riwayat Bukhari no. 6995, Muslim no. 2261)
Jika seseorang sedang mengalami ketindihan, maka bisa mengamalkan sunnah dan anjuran dari Rasulullah SAW:
“Jika seseorang bermimpi sesuatu yang ia benci (buruk) hendaklah ia meludah ke sebelah kirinya sebanyak tiga kali, dan memohon perlindungan dari Allah SWT dari setan sebanyak tiga kali, serta merubah posisi tidurnya dari posisi semula ia tidur.” (Hadits Riwayat Muslim 2262)
Perkara hal-hal gaib hanya Allah SWT yang mengetahui baik di langit maupun di bumi sebab Dia lah yang menciptakannya. Tak bisa dipungkiri, kita sebagai makhluk-Nya juga berdampingan hidupnya dengan makhluk-makhluk gaib termasuk jin dan setan.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهٖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ
Artinya: “Dialah Penguasa mutlak di atas semua hamba-Nya, dan Dia mengutus kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya.” (QS. Al-An’am: 61)
Allah SWT yang menghidupkan dan mematikan manusia di waktu yang telah ditetapkan. Bahkan saat manusia sedang tertidur pun Allah SWT juga menggenggam dan menjaga nyawanya. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَاۚ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Artinya: “Allah menggenggam nyawa (manusia) pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika dia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42)
Itulah tadi pembahasan mengenai fenomena ketindihan dalam segi Islam maupun medis dan sains. Pada hakikatnya, ketindihan bisa dibuktikan secara sains maupun sudut pandangan agama.
Dari adanya dua sudut pandang tersebut membuat kita semakin bijak dalam mengambil sikap dengan menjaga pola tidur dan juga meningkatkan spiritual kepada Allah SWT.
Penulis: Suci Wulandari