Safar Bernilai Ibadah: Meraih Pahala Saat Perjalanan Panjang

Alfatihah.com – Pernahkah kita berpikir bahwa perjalanan yang kita lakukan sehari-hari bisa bernilai ibadah di mata Allah SWT? Seperti halnya saat kita sedang berangkat kerja, menuntut ilmu di sekolah atau perkuliahan, datang ke majelis ilmu, dan lain-lain?

Safar bernilai ibadah jika perjalanan tersebut kita niatkan untuk Allah SWT. Kita harus bisa ikhlas melakukan safar jika memang hal-hal tersebut untuk kebaikan seperti, menolong sesama, untuk berdoa, dzikir atau ibadah-ibadah lainnya sesuai dengan syariat Islam.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).

Macam-macam Bentuk Safar

Safar bentuknya ada beberapa macam. Oleh sebab itu, jangan sampai salah memahaminya. Berikut ini adalah bentuk-bentuk safar:

1. Safar Wajib

Safar wajib merupakan safar yang wajib untuk dilakukan seperti saat sedang akan menjalankan ibadah contohnya yaitu ibadah haji, umroh, menuntut ilmu, atau kewajiban untuk berjihad.

2. Safar Sunnah

Safar sunnah merupakan safar yang disunnahkan untuk dilakukan seperti saat akan sedang menjalankan ibadah umroh yang sunnah, haji yang sunnah, dan berjihad yang sunnah.

3. Safar Mubah

Safar mubah merupakan safar yang diperbolehkan sesuai dengan syariat Islam. Contohnya yaitu berdagang barang-barang yang halal, bekerja di tempat yang halal, dan lain sebagainya.

4. Safar Haram

Safar haram yaitu safar yang dilarang dalam syariat Islam contohnya yaitu, niat untuk bepergian karena akan dugem, minum khamr, menggunakan narkotika, dan melakukan kegiatan haram lainnya. 

5. Safar Makruh

Safar makruh yaitu safar yang berniat bepergian seorang diri tanpa ada yang menemani terutama bagi perempuan, alangkah baiknya jika seorang perempuan ditemani mahramnya. Namun, jika ada hal-hal darurat yang mengharuskannya pergi tanpa ada yang bisa menemani maka hal itu diperbolehkan.

Safar Bernilai Ibadah

Safar bernilai ibadah jika dilakukan untuk hal-hal yang benar dan sebagai sebuah perantara dalam mendukung ibadah atau amal saleh.

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

Artinya: “Sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah dalam rangka mengharap wajah Allah, melainkan akan diganjar dengan usaha itu sampai pun sesuap makanan yang engkau masukkan dalam mulut istrimu.” (Hadist Riwayat Bukhari, no. 6373 dan Muslim, no. 1628)

Dari hadist diatas sudah jelas, bila safar bernilai ibadah jika semuanya diniatkan ikhlas untuk mengharapkan ridha dan karunia dari Allah SWT. 

Dalam melakukan perjalanan, seseorang seringkali ditimpa ujian seperti kelelahan, keterbatasan, hingga kesendirian. Tapi dari hal itulah, manusia jadi lebih bertawakal dan sabar dalam menghadapinya.

Salah satu keistimewaan safar adalah waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda: “Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa musafir.” (Hadist Riwayat Abu Dawud)

Safar bernilai ibadah jika di dalamnya ada hati yang lapang menerima segala bentuk ujiannya. Karena pada dasarnya Allah SWT lah yang mengujinya sesuai dengan kemampuannya. 

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Bahkan, safar yang hukumnya mubah dapat menjadi safar bernilai ibadah jika disertai niat dan amalan yang benar sesuai dengan syariat Islam. Semua kuncinya adalah niat di kesempatan waktu luang.

Ketika duduk di perjalanan, ia selalu berdoa, berdzikir, bahkan membaca Al-Qur’an. Tak hanya itu, sekedar menyimak konten islami seperti dakwah, atau hal-hal kecil lainnya juga bisa membuat safar bernilai ibadah.

Rasulullah SAW bersabda: “Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (Hadist Riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Itulah tadi mengenai macam-macam bentuk safar dan safar yang bernilai ibadah. Safar yang seringkali dianggap perjalanan yang biasa saja justru Allah SWT jadikan bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat dan tujuan yang benar. Oleh sebab itu, niatkan segala hal karena Allah SWT agar meraih ridha-Nya.

Penulis: Suci Wulandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Chat WhatsApp
Admin Saskia