Alfatihah.com – Sering kali kita merasa insecure karena kelebihan maupun pencapaian hidup dari orang lain. Padahal yang sebenarnya adalah, setiap manusia itu dilahirkan mempunyai potensi. Namun, tak jarang perang batin muncul karena kita tidak bisa hidup pada potensi tersebut. Setiap orang hebat dengan versinya masing-masing.
Menjadi versi terbaik memang membutuhkan sebuah proses perjalanan yang terkadang tidak mudah. Namun dalam Islam, kita senantiasa diajarkan untuk bersabar dan yakin dalam menghadapinya.
Dalam Islam, menjadi versi terbaik diri sendiri memiliki bentuk atau karakter yang berbeda dari kebanyakan orang. Orang yang telah mampu menjadi versi terbaik dirinya maka ia akan mampu menerima dirinya apa adanya, tidak hidup untuk mendapatkan validasi orang lain, dan fokus pada proses bukan hanya pencapaian.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)
Ayat diatas dengan tegas menjelaskan bahwasannya setiap manusia itu Allah SWT ciptakan dengan versi paling baik bahkan diantara makhluk lainnya. Allah SWT menciptakan manusia dengan memiliki potensi tertinggi, namun tak menutup kemungkinan juga jika ia bisa berada di titik paling rendah jika tidak mampu mengontrol dan mengelola emosinya dengan baik.
Oleh karena itu, setelah QS. At-Tin ayat 4 disambung dengan QS. At-Tin ayat 5 yang berbunyi:
ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سٰفِلِيْنَۙ
Artinya: “Kemudian, kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.”
Menjadi versi terbaik diri sendiri dalam Islam bukan dengan pasrah dan menyerah. Justru Allah SWT akan mengubah dirinya menjadi versi terbaik dengan niat dan usahanya untuk berubah.
Islam melarang manusia untuk menirukan hal-hal yang tidak baik bahkan jika sampai hal tersebut mempengaruhi dirinya sehingga ia kehilangan jati dirinya dan imannya. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
Artinya: “Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Seseorang yang memang niat berubah menjadi versi terbaik dalam dirinya harus terus semangat untuk bertumbuh dan memperbaiki dirinya. Semangat untuk berubah tersebut bukan untuk menyombongkan diri melainkan agar bisa bermanfaat juga untuk sesama.
Versi terbaik dalam diri seseorang itu bukan mengharapkan pujian atau validasi dari orang lain melainkan saat tujuan tersebut bisa selaras dengan tujuan dari Allah SWT menciptakan manusia.
Menjadi diri sendiri bukan berarti harus menuruti ego tetapi juga bisa mengendalikan hawa nafsu sesuai dengan perintah Allah SWT. Karena saat kita sudah kembali pada Allah SWT (meninggal dunia), maka tentu yang ditanyakan adalah amal kebaikan selama di dunia bukan tentang jabatan maupun profesi.
Setiap proses perubahan menjadi lebih baik akan selalu Allah SWT hitung sebagai sebuah amal kebaikan dan pahala karena sekecil apapun usaha hamba-Nya berubah menjadi lebih baik dari dirinya di hari kemarin juga merupakan sebuah usaha.
Di perjalanan dan proses panjang inilah mengajarkan jika segala hal itu harus diraih dengan usaha, kesabaran, dan konsistensi. Kadang kalanya tidak semua proses berjalan sesuai dengan rencana yang kita inginkan. Namun, Allah SWT lebih memahami isi hati setiap hamba-Nya.
Itulah tadi pembahasan mengenai menjadi versi terbaik dirimu sendiri dalam pandangan Islam. Pada hakikatnya, setiap proses perubahan untuk lebih baik memang membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Namun seorang hamba harus bisa berusaha menjadi lebih baik sampai mencapai titik terbaik dari versi dirinya sendiri. Setiap manusia Allah SWT ciptakan penuh dengan potensi dan tugas kita adalah untuk mengembangkan hal tersebut dan tidak melenceng dari syariat Islam.
Penulis: Suci Wulandari