Alfatihah.com – Sebagian besar umat Islam saat bulan ramadhan justru lebih sering begadang dan memanfaatkan waktu dengan bermain game di malam hari atau bahkan melakukan aktivitas mubah yang melalaikan lainnya. Bermain game malam hari dianggap sebagai waktu yang tepat dan paling nyaman karena bebas makan maupun minum.
Bermain game malam hari dijadikan pilihan karena tak jarang saat siang hari banyak yang memanfaatkannya dengan tidur seharian penuh hingga tidak terasa waktu berbuka akan datang sebentar lagi. Padahal saat bulan ramadhan, Rasulullah SAW memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin untuk beribadah.
Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai umat-Nya yang bermain game malam hari hingga membuatnya lalai di siang hari?
Bulan ramadhan adalah sebuah momentum yang tepat untuk kita mendekatkan diri kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah sosok teladan yang baik untuk kita karena dapat menghidupkan ramadhan dengan memperbanyak ibadah dan beramal saleh.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah SAW bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (Hadits Riwayat Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirihi atau yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya).
Sikap Rasulullah SAW patut kita teladani karena menghidupkan bulan ramadhan dengan memperbanyak qiyam maupun tilawah. Bahkan, di siang harinya Rasulullah SAW dan para sahabat tetap berjuang di perang badar. Tak jarang, banyak perang-perang lainnya yang juga dilakukan di bulan ramadhan.
Jika melihat fakta hari ini, sebagian besar umat Islam justru menyia-nyiakan bulan ramadhan nya dengan perbuatan yang tidak jelas seperti bermain game malam hari sampai lupa waktu, melakukan maksiat, dan melakukan hal-hal lainnya yang melanggar syariat.
Tujuan bulan ramadhan untuk membersihkan jiwa dan memperbanyak ibadah justru sirna begitu saja karena banyak orang yang terjebak bermalas-malasan.
Syaikh al-Utsaimin mengatakan:
“Apabila manusia di bulan ramadhan keinginan (tekad) mereka hanyalah untuk memvariasi makanan (biasanya makanan bermacam-macam saat bulan ramadhan), tidur siang hari, begadang di malam hari untuk perkara yang tidak membawa manfaat. Tidak diragukan lagi jika hal ini termasuk menyia-nyiakan kesempatan yang berharga yang bisa jadi tidak akan datang lagi pada manusia selama hidupnya.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 19/175)
Jika kita tidak bisa memanfaatkan bulan ramadhan dengan baik, sungguh amat disayangkan apabila kita justru menjadi golongan orang-orang yang merugi. Kita hanya sekedar menahan lapar dan haus saja tanpa mengisi puasa ramadhan dengan mengumpulkan banyak amal.
Rasulullah SAW bersabda:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya selain lapar dan haus. Dan betapa banyak orang yang salat malam, namun tidak mendapatkan pahala salatnya selain begadang (lelah semata). (Hadits Riwayat An-Nasa’i no 3249, Ibu Majah no 1690)
Jika hal itu benar terjadi, bagaimana mungkin bulan ramadhan kali ini bisa menjadi sebuah ladang dan ampunan apabila diri kita sendiri lalai beribadah dan sering bermalas-malasan. Bermain game malam hari sampai begadang menunggu sahur dan siang harinya hanya tidur hingga menunggu adzan magrib, apakah ini bukan termasuk lalai?
Itulah tadi pembahasan mengenai bermain game malam hari yang dapat menghilangkan pahala puasa ramadhan. Jangan sampai puasa kita menjadi sia-sia begitu saja. Momentum bulan ramadhan adalah sebuah kesempatan emas dan berharga yang mungkin saja ini bisa menjadi puasa ramadhan terakhir kita.
Maka sebab itu, alangkah baiknya kita isi ramadhan baik di siang hari maupun malam hari dengan ibadah dan memperbanyak amal kebaikan lainnya bukan malah untuk melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat dan melanggar ketentuan syariat Islam.
Penulis: Suci Wulandari