Alfatihah.com – Sebagian besar dari kita pasti pernah merasa hidup baik-baik saja namun kenapa selalu merasa kurang bahagia? Padahal tidak ada masalah berat, tapi selalu merasa ada yang kurang. Mungkin salah satunya bukan karena kita tidak bersyukur dan tidak ada puasnya, tetapi bisa jadi bahagia yang kita kejar sebenarnya bukan milik kita.
Menemukan kebahagiaan dan rasa syukur dalam diri sebenarnya bukanlah hal yang sulit, bahkan sangat sederhana. Namun, jika kebahagiaan tersebut selalu diukur dari pencapaian dan perbandingan , maka tidak akan ada batasnya dan kita selalu merasa ketinggalan dari orang lain.
Bahagia yang seharusnya berupa ketenangan batin, justru malah menjadi sebuah ajang perlombaan. Bagaimana cara menemukan kebahagiaan dan rasa syukur versi diri sendiri di dalam Al-Qur’an? Mari kita simak!
Menemukan kebahagiaan dalam Al-Qur’an bukanlah hal yang diukur dari materi maupun pencapaian. Al-Qur’an tidak pernah sekalipun menyamakan versi bahagia dengan materi atau banyaknya harta, melainkan dengan hati yang tenang.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Menemukan kebahagiaan versi diri sendiri pada Al-Qur’an bukanlah tentang hidup yang tidak ada masalah karena manusia hidup dilahirkan memiliki masalah dan ujiannya masing-masing.
Menemukan kebahagiaan pada Al-Qur’an tidak bergantung pada harta benda, melainkan dengan hidup yang terarah dan bersandar hanya kepada-Nya. Al-Qur’an tidak memerintahkan seseorang untuk bersyukur sebagai tameng dalam menutup luka, melainkan untuk meluaskan jiwa.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.” (QS. Ibrahim: 7)
Rasa syukur akan membantu manusia untuk melatih hati untuk melihat dan merasakan dengan kejujuran. Al-Qur’an sama sekali tidak memaksakan kita sebagai manusia untuk mencari kebahagiaan melainkan memerintahkan mencari dengan versinya masing-masing.
Ketenangan batin akan didapatkan melalui perjalanan hidupnya dalam menemukan Allah SWT. Kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah meniru dari orang lain, melainkan berdamai dan menerima segala takdir dari Allah SWT namun tetap terus memperbaiki diri untuk senantiasa bertumbuh menjadi lebih baik.
Banyak sekali orang yang lelah dalam menemukan kebahagiaan karena ia sering kali mencari kebahagiaan di tempat yang salah atau keliru karena terlalu fokus mengejar kebahagiaan versi milik orang lain.
Terkadang kita kerap kali membandingkan kehidupan kita dengan orang lain sehingga membuat kita selalu merasa kurang dan tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki saat ini.
Al-Qur’an mengajarkan kita bahwa dalam menemukan kebahagiaan kita tidak perlu susah-susah mencari kemana-mana melainkan kebahagiaan itu bisa ditemukan versi diri sendiri melalui Al-Qur’an.
Rasa syukur bukan berarti menutup mata dari rasa sakit yang kita miliki begitu saja melainkan tentang cara proses untuk sembuh. Kebahagian yang sebenarnya bukan berarti kita yang memiliki segalanya, harta, jabatan, pasangan, melainkan dari cara kita menerima segala ketetapan dan nikmat dari Allah SWT dengan penuh keikhlasan.
Jika kita terus mencari, maka sebenarnya kita tidak benar-benar menemukan kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan akan hadir ketika kita mampu mensyukuri dan menerima segala hal dalam hidup. Karena kita sebagai makhluk yang mempunyai banyak keterbatasan, maka kita tidak bisa mengontrol segala hal, sehingga syukur adalah cara yang paling tepat.
Itulah tadi pembahasan tentang menemukan kebahagiaan versi diri sendiri pada Al-Qur’an. Pada dasarnya, bahagia itu sangat sederhana tergantung cara kita mencari dan menciptakan kebahagiaan itu sendiri.
Namun, ketika rasa syukur kita hadirkan dalam hidup, maka kebahagiaan yang sesungguhnya sudah berada di tangan kita karena kita mampu untuk mengelolanya dengan baik.
Penulis: Suci Wulandari