Hukum Salat Menggunakan Pakaian Terkena Najis, Apakah Tetap Sah?

Alfatihah.com – Salat merupakan salah satu ibadah wajib yang dilakukan oleh umat Islam di seluruh dunia sebanyak lima waktu dalam sehari. Dalam menjalankan kesempurnaan dari ibadah salat tersebut, salah satunya yaitu dengan menjaga kesucian berpakaian. Namun di dalam kondisi tertentu terkadang kita kesulitan menggunakan pakaian yang suci yang bersih.

Hukum salat menggunakan pakaian yang terkena najis seringkali mendapatkan banyak pro dan kontra di kalangan para ulama. Pasalnya, jika dalam kondisi terdesak dan telah mepet memasuki waktu salat, terkadang pakaian yang digunakan terkena najis namun tidak sempat untuk dibersihkan.

Hukum Salat Menggunakan Pakaian Terkena Najis

Kesucian merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi ketika akan melaksanakan ibadah salat baik itu suci badan, pakaian, dan tempat. Namun dalam memandang dan menghukumi salat menggunakan pakaian yang terkena najis terdapat beberapa pandangan mahzab yang berbeda.

1. Menurut Pendapat Hanafiyah

Dalam kondisi di atas, si A dibolehkan melaksanakan shalat meskipun dengan pakaian najis. Shalatnya sah dan tidak perlu diulang. Al-Kasani dalam Bada’i As-Shana’i mengatakan,

فإن كان ربعه -أي الثوب- طاهراً لم يجزه أن يصلي عرياناً بل يجب عليه أن يصلي في ذلك الثوب لأن الربع فما فوقه في حكم الكمال…. وإن كان كله نجساً أو الطاهر منه أقل من الربع فهو بالخيار في قول أبي حنيفة وأبي يوسف إن شاء صلى عرياناً وإن شاء مع الثوب لكن الصلاة في الثوب أفضل، قال محمد لا تجزئه إلا مع الثوب

Artinya: “Jika seperempat bajunya itu suci (3/4 terkena najis) maka dia tidak boleh shalat sambil telanjang. Namun dia wajib shalat dengan menggunakan baju itu. Karena seperempat ke atas, masih dianggap seperti sempurna… namun jika seluruh bajunya najis, atau yang suci kurang dari 1/4 bagian, maka dia punya hak pilih, menurut pendapat Abu hanifah dan Abu yusuf (murid Abu Hanifah). Dia boleh shalat dengan telanjang, boleh juga shalat dengan memakai baju itu. Namun shalat dengan menggunakan baju itu lebih utama. Sementara Muhammad bin Hasan (murid Abu Hanifah) berpendapat, shalatnya tidak sah, kecuali dengan memakai pakaian (meskipun najis).” (Bada’i As-Shana’i, 1:478)

2. Menurut Pendapat Malikiyah

Si Fulan boleh shalat dengan baju itu. Namun jika setelah memungkinkan untuk mencucinya atau mendapatkan baju ganti, si Fulan masih mendapatkan waktu salat, dia wajib mengulangi shalatnya.

An-Nafrawi mengatakan,

وكذلك يعيد في الوقت من صلى فريضة بثوب نجس أو متنجس مع عدم القدرة على إزالتها واتساع الوقت وكانت تلك النجاسة غير معفو عنها

Artinya: “Orang yang melakukan shalat wajib dengan baju najis atau baju terkena najis, sementara dia tidak mampu menghilangkannya, dan waktu shalat masih longgar, disamping najisnya tidak bisa ditoleransi maka dia wajib mengulangi shalatnya selama waktu salat masih ada (setelah mencuci najisnya).” (al-Fawakih ad-Dawani, 3:24).

3. Menurut Pendapat Syafiiyah

Si A tidak boleh shalat dengan pakaian najis itu. Namun dia shalat dengan telanjang, shalatnya sah dan tidak wajib diulangi.

Imam asy-Syafii dalam kitabnya al-Umm mengatakan,

ولو أصابت ثوبه نجاسة ولم يجد ماء لغسله صلى عرياناً ولا يعيد، ولم يكن له أن يصلي في ثوب نجس بحال….

Artinya: “Jika pakaiannya terkena najis dan dia tidak mendapatkan air untuk mencucinya maka dia shalat sambil telanjang dan tidak perlu diulang. Dia tidak boleh melakukan shalat dengan pakaian najis, apapun keadaannya…” (al-Umm, 1:74)

4. Menurut Pendapat Hanbali

Si A boleh shalat dengan baju najis itu dan tidak boleh shalat sambil telanjang. Namun dia wajib mengulangi shalatnya setelah mencucinya atau mendapatkan baju ganti, meskipun waktu shalat telah berakhir.

Ibnu Qudamah mengatakan,

ومن لم يجد إلا ثوباً نجساً صلى فيه وأعاد على المنصوص

Artinya: “Orang yang tidak memiliki pakaian selain baju najis, dia boleh shalat dengan baju itu, dan wajib mengulangi, menurut keterangan Imam Ahmad.” (al-Muqni’ dengan Syarh al-Kabir, 1:465)

Lebih afdolnya lagi ketika hendak melaksanakan salat baik tempat, pakaian, maupun tubuh tetaplah dianjurkan dalam keadaan suci dan bersih. Jika tidak mengetahui hal tersebut ada najisnya, maka salatnya bisa dilanjutkan. 

Apabila mengetahui banyak najisnya, sangat dianjurkan untuk membatalkan salatnya dan membersihkan najisnya, baru setelah itu melaksanakan salat.

Itulah tadi hukum salat menggunakan pakaian najis. Alangkah baiknya saat bertemu dengan Allah SWT dan melaksanakan ibadah, gunakanlah pakaian terbaik yang bersih dan suci sehingga ibadah jauh lebih khusyu’ dan sempurna. 

Penulis: Suci Wulandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Chat WhatsApp
Admin Saskia