Alfatihah.com – Dalam Islam, perkataan dan ucapan yang baik sangatlah dijunjung tinggi. Tutur kata yang lembut, sopan santun termasuk dalam adab dan akhlakul karimah. Terdapat pepatah arab yang menyebutkan bahwa akhlak lebih baik daripada ilmu. Banyak umat Islam yang saat ini menyepelekan ucapan terutama anak muda yang menormalisasikan berbicara kasar.
Hukum berbicara kasar dalam Islam adalah hal yang tidak dibenarkan. Banyak yang saat ini sering mengucapkan kata “anjing” namun diplesetkan menjadi anjay, anjir, anying, dan sebagainya.
Kata-kata tersebut saat ini menjadi hal yang justru dianggap lumrah dan jika tidak mengatakan hal tersebut justru dianggap tidak gaul dan mengikuti perkembangan zaman.
Berbicara kasar juga berkaitan dengan kaum Yahudi terdahulu. Dahulu kaum Yahudi diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengucapkan kalimat khittah yang artinya “Ya Allah ampunilah aku.”
Namun, mereka memelesetkan perintah ini mengganti kata khittah dengan ungkapkan hinthah yang artinya gandum. Jika melihat fenomena saat ini, banyak yang berbicara kasar adalah sama-sama memelesetkan kata dengan tujuan umpatan, dan mencari pemakluman.
عن ابنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قال: قال رسولُ الله صلَّى الله عليه وسلم:«مَن تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Artinya: Ibnu Umar -raḍiyallāhu ‘anhumā- meriwayatkan, Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kalangan mereka.” (Hasan) – (Hadist Riwayat Abu Dawud dan Ahmad) – (Sunan Abu Daud – 4031)
Jika mengatakan “anjing” dianggap terlalu kasar, maka banyak yang memelesetkannya dengan ucapan anjay, anjir, anying, dan lain-lain.
Imam Malik RA pun turut mengatakan:
تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم
Artinya: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Rasulullah SAW bersabda dalam haditsnya yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَتِمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (Hadits Riwayat Bukhari, Baihaqi, dan Hakim)
Al-Khatib Al-Baghdadi (392- 463 H) mengatakan:
بالأدب تفهم العلم
Artinya: “Hanya dengan adab, engkau akan memahami ilmu.”
Berkata kasar merupakan hal yang sangat tercela dan sangat dibenci oleh Allah SWT termasuk dengan memelesetkan kata “anjing” karena hal tersebut adalah umpatan kepada sesuatu.
Sifat orang beriman pula tidaklah mengumpat dengan perkataan dan tingkah laku. Ancaman bagi mereka yang mencela seperti itu jelas sekali dalam ayat berikut,
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
Artinya: “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al-Humazah: 1)
Meskipun kata “anjing” dipelesetkan atau diperhalus, tetapi hal itu sama aja ke dalam perkataan kasar dan umpatan. Alangkah baiknya kita sebagai umat Islam bisa menjaga lisan dan ucapan yang baik-baik.
Kata-kata seperti anjir, anjay, anying, dan sebagainya adalah permainan kata dari “anjing” supaya tidak kasar untuk didengari. Ibrahim An-Nakha’i Rahimahullah Ta’ala berkata:
Mereka (para tabi’in) pernah berkata, jika seseorang mencela orang lain dengan perkataan ‘Wahai keledai’, ‘Wahai anjing’, ‘Wahai babi’ maka Allah akan bertanya kepadanya pada hari kiamat:
“Adakah kamu melihat bahwa Aku telah menciptakan (dia) sebagai anjing atau keledai atau babi?.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5/283)
Itulah tadi mengenai hukum berbicara kasar dalam Islam. Islam sangat menyukai perkataan yang lembut dan sopan santun. Alangkah baiknya sebagai umat Islam yang baik, kita dapat meneladani sifat Rasulullah SAW yang senantiasa berkata lemah lembut dan tidak suka mengumpat.
Jangan sampai ucapan anjay, anjir, anying, dan lain sebagainya menjadi hal yang dinormalisasikan. Rusaknya zaman juga salah satu faktornya adalah seseorang yang tidak memiliki adab dan sopan santun.
Penulis: Suci Wulandari