Gangguan Kesehatan Mental, Apakah Pertanda Seseorang Tidak Memiliki Iman?

Alfatihah.com – Banyak sekali orang yang beranggapan bahwa gangguan kesehatan mental merupakan tanda jika seseorang tidak memiliki iman. Padahal di dalam Islam, kita tidak diperbolehkan untuk langsung mengambil kesimpulan terhadap sebuah permasalahan tanpa mengetahui faktor yang menjadi penyebabnya terlebih dahulu.

Gangguan kesehatan mental seringkali dikaitkan dengan seseorang yang kurang beribadah, tidak memiliki iman, dan dianggap jauh dari Allah SWT. Padahal di dalam Islam kita tidak boleh sembarangan dalam menilai orang lain. 

Gangguan Kesehatan Mental Tanda Seseorang Kurang Beriman?

Rasulullah SAW bersabda: “Setiap penyakit itu ada obatnya, jika obat itu tepat mengenai penyakit, ia akan sembuh dengan izin Allah SWT.” (Hadist Riwayat Muslim no. 2204)

Itu artinya, jika dalam Islam segala macam penyakit itu tentu ada pengobatannya termasuk gangguan kesehatan mental. Setiap macam penyakit bisa disembuhkan dengan cara terus berikhtiar mencarikan obatnya dan jika memang Allah SWT izinkan pasti ia akan menjadi sembuh.

Gangguan kesehatan mental bukan semata-mata karena seseorang tidak memiliki iman atau malas untuk beribadah melainkan adalah sebagai sebuah bentuk ujian dari Allah SWT. 

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin pernah ditanya: “Saya pernah mengalami banyak rasa sakit, depresi, kegelisahan, jantung berdebar, dan sering menangis. Saya berusaha mengharap pahala dari Allah SWT atas semua itu. Namun, seseorang berkata kepada saya: ‘Itu tanda lemahnya iman.’ Apakah hal itu benar?”

Jawaban Syaikh: “Itu bukan tanda lemahnya iman, tetapi itu adalah ujian dari Allah SWT timpakan kepada hamba-Nya untuk mengujinya, apakah ia akan bersabar atau tidak.”

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Gangguan kesehatan mental bukanlah sebuah aib, bukan pula tanda seseorang tidak memiliki iman. Islam mengajarkan kita untuk bersabar serta senantiasa berusaha untuk mencari solusi dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Seseorang yang memiliki masalah pada kesehatan mental merupakan salah satu bentuk ujian dari Allah SWT karena Allah SWT ingin lebih dekat kepada hamba-Nya. Di kehidupan dunia ini tidak ada seseorang yang terlahir tanpa mendapatkan ujian.

Seseorang yang hidupnya terlihat selalu bahagia pun bukan berarti tidak pernah ada masalah dan cobaan. Ujian bukan hanya soal permasalahan melainkan tentang hati yang lapang dan senantiasa ikhlas untuk menerima segala sesuatu yang sudah Allah SWT tetapkan.

Orang-orang beriman yang dicintai oleh Allah SWT pun tidak pernah terlepas dari yang namanya ujian. Nabi Ayyub AS yang diuji penyakit fisik dan kronis, Nabi Yaqub AS diuji kehilang anaknya selama bertahun-tahun hingga matanya sampai memutih, bahkan Rasulullah SAW mengalami dukacita yang mendalam setelah Khadijah dan Abu Thalib wafat.

Sebagai seorang mukmin, untuk menyembuhkan penyakit mental perlu menempuh dua sebab, yaitu sebab kauni dan sebab syar’i. Sebab kauni yaitu seperti dengan berobat ke dokter, konsultasi ke psikolog atau psikiater dalam hal ini adalah salah satu bentuk ikhtiar kepada Allah SWT. 

Sebab  yang kedua yaitu sebab syar’i seperti dengan beriman kepada takdir dan ikhlas menerimanya, rajin beribadah, dan banyak berdoa kesembuhan kepada Allah SWT dalam hal ini adalah salah satu bentuk tawakal kepada Allah SWT. 

Sesuai dengan firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

Itulah tadi mengenai gangguan kesehatan mental dan kaitannya dengan seseorang yang tidak memiliki iman. Seseorang yang memiliki masalah mental bukan hanya soal iman melainkan kita juga harus mengetahui hal-hal lainnya.

Kita harus bisa memahami penyakit mental dan berhenti menghakimi seseorang dengan perkataan yang tidak baik dan hanya menyakiti hati orang lain. Karena sejatinya, penyakit mental bisa terjadi pada siapapun, usia berapapun, dan agama apapun tanpa memandang seseorang. 

Bahkan para pemuka agama yang memiliki nilai spiritualitas tinggi pun dapat mengalami penyakit ini. Sebagai seseorang yang beriman, tentunya kita bisa mencegah penyakit ini dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menjaga hati agar tidak mudah memikirkan hal-hal buruk yang dikatakan oleh orang lain.

Penulis: Suci Wulandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Chat WhatsApp
Admin Saskia