Perempuan Mudah Merasa Bersalah? Mengapa Demikian? Inilah Penjelasan dalam Islam dan Psikologi!

Alfatihah.com – Banyak perempuan mudah merasa bersalah bahkan saat tidak sedang melakukan hal yang sebenarnya adalah salah. Merasa bersalah karena menolak ajakan orang lain, merasa bersalah karena lelah, merasa bersalah karena diam dan memilih dirinya sendiri, serta perasaan bersalah lainnya.

Sebenarnya mengapa perempuan diciptakan memiliki perasaan yang sensitif dan mudah merasa bersalah ini? Ternyata, perempuan mudah merasa bersalah karena sejak kecil ia didorong untuk mendahulukan keinginan orang lain daripada dirinya sendiri.

Bagaimana Islam dan psikologi memandang mengenai perempuan mudah merasa bersalah ini? Yuk simak lebih lanjut!

Benarkah Perempuan Mudah Merasa Bersalah?

Dalam dunia psikologi, perempuan lebih rentan untuk mengalami guilt proneness atau mudah merasa bersalah, people pleasing, dan emotional responsibility terhadap orang lain. Sejak saat kecil, dalam diri perempuan selalu dibentuk untuk bisa menjaga perasaan orang lain.

Perempuan selalu dituntut untuk tidak merepotkan orang lain dan selalu mengerti perasaan orang lain hingga saat ia mendahulukan hati dan perasaannya justru perasaan bersalah itu muncul pada dirinya dan menganggap hal itu adalah kesalahan terbesar.

Riset psikologi menunjukkan jika perempuan itu cenderung menginternalisasi konflik yang dimana apabila ada kesalahan selalu menyalahkan dirinya sendiri, kalau ada orang yang menangis atau kecewa itu berarti dirinya merasa gagal dalam menjaga perasaan orang lain, bahkan puncaknya adalah mengesampingkan keinginannya sendiri.

Hal tersebut bukan berarti karena lemah. Perempuan mudah merasa bersalah karena ia terbiasa dalam memikul beban emosional. Rasa bersalah yang berkepanjangan dapat membuat seorang perempuan sulit berkata “tidak” atau menolak sesuatu karena takut menyakiti perasaan orang lain.

Oleh karena itu, tak jarang perempuan itu bertahan dalam lingkaran pertemanan yang melelahkan namun sulit untuk keluar, dan cenderung mengabaikan keinginan diri sendiri. Secara sosial hal itu tentu adalah kesalah terbesar.

Jika terus menerus terjadi, perempuan akan sangat mudah sekali untuk dieksploitasi karena harus merasa terus mengalah dalam berbagai situasi dan kondisi. Padahal dalam Islam, Allah SWT tidak memerintahkan kepada perempuan untuk memikul beban yang bukan miliknya.

Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:

قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah aku (pantas) mencari tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap orang yang berbuat dosa, dirinya sendirilah yang akan bertanggung jawab. Seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain. Kemudian, kepada Tuhanmulah kamu kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan.” (QS. Al-An’am: 164)

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ اِنْ نَّسِيْنَآ اَوْ اَخْطَأْنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖۚ وَاعْفُ عَنَّاۗ وَاغْفِرْ لَنَاۗ وَارْحَمْنَاۗ اَنْتَ مَوْلٰىنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَࣖ

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. Baginya ada sesuatu (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan terhadapnya ada (pula) sesuatu (siksa) atas (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa,) “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami salah. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami. Maka, tolonglah kami dalam menghadapi kaum kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Islam mengajarkan bentuk tanggung jawab yang adil dengan batas sehat dan menghadirkan jika nilai diri seseorang itu tidak harus bergantung terhadap penerimaan manusia lainnya. Perempuan bukanlah alat yang harus selalu dituntut untuk dapat menyenangkan hati setiap orang. Oleh karena itu, perempuan mudah merasa bersalah juga harus dikurangi secara perlahan.

Perempuan dalam Islam justru dituntut untuk menjaga amanah dalam dirinya dan iman di dalam hatinya. Menghormati diri dan menjaga perasaan diri sendiri juga termasuk ke dalam bentuk ibadah. Banyak sekali trauma dari seorang perempuan yang lahir bukan karena lemahnya iman, tetapi karena pemahaman iman yang salah.

Itulah tadi pembahasan mengenai alasan perempuan mudah merasa bersalah dalam pandangan Islam dan psikologi. Pada dasarnya, perempuan diciptakan memang memiliki perasaan yang jauh lebih sensitif daripada laki-laki.

Namun perlu dipahami, jika perempuan juga harus bisa memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk memvalidasi perasaannya. Tak harus selalu berusaha menyenangkan hati orang lain karena itu bukanlah hal yang bisa perempuan kontrol.

Penulis: Suci Wulandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Chat WhatsApp
Admin Saskia