Alfatihah.com – Karma merupakan salah satu istilah yang sudah tidak asing terdengar di telinga masyarakat. Sebenarnya apakah dalam Islam karma ini berlaku? Faktanya, istilah karma berasal dari agama Hindu dan Buddha yang dimana ajaran tersebut menganggap bahwa karma merupakan salah satu bentuk pembalasan yang kemudian menjadi hukum tabur tuai.
Islam tidak mengenal istilah karma karena Islam hanya ada hubungan sebab dan akibat. Islam hanya mengenal sebuah doktrin jika perbuatan baik akan mendapatkan balasan yang baik dan perbuatan buruk pasti juga akan mendapatkan balasan yang buruk.
Allah SWT mempunyai cara tersendiri hal yang sesuai bagi setiap hamba-Nya sesuai dengan apa yang ia perbuat selama di dunia. Dalam Islam, konsep yang hampir mirip dengan karma yaitu konsep mizan (timbangan) amal dan juga yaumul hisab (hari perhitungan).
Islam telah mengajarkan bahwa setiap perbuatan baik itu dosa maupun amal selama di dunia selalu dicatat oleh malaikat dan akan dipertimbangkan di hari akhir kelak mau itu sekecil apapun dosa dan amalnya.
Allah SWT adalah sebaik-baiknya hakim yang Maha Adil dan setiap orang yang berbuat dosa maupun kebaikan selama di dunia akan mendapatkan balasan yang sesuai, setara, dan setimpal saat ditimbang dan diperhitungkan di hari akhir.
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ
Artinya: “Seandainya Allah menghukum manusia karena kezaliman mereka, niscaya Dia tidak meninggalkan satu makhluk melata pun di atasnya (bumi), tetapi Dia menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka, apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan dan percepatan sesaat pun.” (An-Nahl: 61)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)
Islam hanya mengetahui ajaran bahwa setiap apa yang dikerjakan oleh manusia entah itu kebaikan maupun keburukan pasti akan diberikan dengan hal yang sama meskipun hanya sekecil biji zarah sekalipun.
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Al-Zalzalah: 7)
وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗࣖ
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Al-Zalzalah: 8)
Dalam Islam balasan perbuatan selama di dunia dapat diberikan berupa kenikmatan maupun musibah yang dimana hal tersebut berfungsi sebagai penghapus dosa, pengingat, maupun sebuah ujian. Tetapi tidak semua dosa adalah sebagai sebuah ujian, terkadang juga musibah itu hadir untuk menaikkan dan mengangkat derajat seseorang.
Oleh sebab itu, dalam Islam tidak mengenal yang namanya konsep karma sebab Allah SWT akan selalu memberikan hasil sesuai yang hamba-Nya kerjakan selama di dunia baik itu berupa nikmat maupun ujian di dunia maupun di akhirat.
Allah SWT menghadirkan pembalasan di dunia dan di akhirat adalah untuk menegakkan keadilan dan sebagai sebuah pembelajaran kepada manusia agar senantiasa dapat memperbaiki diri dan meningkatkan keimanan.
Al-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan perbedaan besar dalam balasan antara orang mukmin dan orang kafir. Bagi orang mukmin, musibah di dunia bisa menjadi penghapus dosa atau peningkatan derajat.
Kebaikan mereka banyak disimpan untuk akhirat, sementara keburukan mereka dibalas di dunia sebagai kafarat. Sebaliknya, bagi orang kafir, semua amal baik mereka dibalas di dunia (berupa kemakmuran, kesehatan, dll.), sedangkan keburukan dan kekafiran mereka ditabung untuk dibalas di akhirat. Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menekankan bahwa balasan perbuatan sangat berkaitan dengan niat seseorang dalam melakukannya.
Semakin ikhlas niatnya, semakin besar pula pahala dan balasan yang diterima. Kebaikan akan dilipatgandakan balasannya, sementara keburukan dibalas setimpal, ini adalah karunia Allah. Hadits Qudsi menyebutkan bahwa kebaikan adalah sepuluh atau lebih, sedangkan kejelekan adalah satu atau dimaafkan.
Itulah tadi mengenai hukum karma dalam pandangan Islam. Islam akan memberikan kebaikan yang berkali-kali jika seseorang juga berbuat baik dan akan memberikan yang setimpal jika seseorang tersebut berbuat buruk karena pada dasarnya setiap hal akan diberikan sesuai dengan yang manusia kerjakan.
Penulis: Suci Wulandari