Alfatihah.com – Pandangan masyarakat terhadap santri ikut terdampak karena ulah sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab membawa-bawa nama santri. Stigma tersebut membentuk citra negatif bagi mereka. Masyarakat beranggapan jika kehidupan pesantren hanya seputar kitab tanpa bekal untuk hidup dan bekerja di dunia luar.
Salah satu konten di platform tik tok milik oknum yang mengaku istri santri membagikan kehidupan kesehariannya. Isi konten tersebut normal saja seperti konten pada umumnya, namun yang menjadi sorotan netizen yaitu dimana ketika sang istri menceritakan jika mempunyai suami santri yang tidak bisa kerja berat.
Pada setiap konten yang dibagikan selalu menceritakan jika dia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk memasak karena bisa menghangatkan nasi hajatan hasil ngaji suaminya. Ungkapan “beginilah punya suami santri yang tidak bisa kerja berat” justru menuai hujatan netizen.
Akibat ulah oknum yang digeneralisasi menimbulkan kesalahpahaman seolah mereka memiliki karakter yang sama.
Berbeda yang berseliweran di dunia maya, faktanya adalah mereka selalu dilatih untuk mandiri dan kerja keras. Kegiatan nya yang sudah dimulai bahkan sebelum subuh, jadwal belajar yang padat, serta bertanggung jawab dengan kebersihan sekitar.
Perlu diketahui jika kerja berat tidak selalu diukur dengan tenaga fisik yang dikeluarkan. Kerja keras bisa mencakup ketekunan, konsistensi, tanggung jawab yang ditanamkan dalam diri selama hidup di pesantren. Banyak juga loh lulusan pesantren yang ulet, jujur, tekun dan tahan banting ketika di dunia kerja.
Sekarang sudah banyak pesantren yang tidak hanya berfokus pada ilmu agama saja. Pesantren membantu membentuk karakter anak didiknya agar mempunyai karakter yang pekerja keras dengan berlandaskan akhlak. Kemudian dengan kesederhanaan mereka yang membantu mereka untuk survive diiringi dengan rasa syukur.
Seperti yang sudah tercantum dalam QS. At-Taubah ayat 105:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan””.
Pada ayat tersebut ditegaskan bahwa Allah memerintahkan kepada hambanya untuk bekerja dan berusaha. Islam tidak mengajarkan untuk bersikap malas atau bergantung tanpa usaha.
Nabi Muhammad SAW menjadi teladan umat muslim atas kegigihannya dalam bekerja. Hal itu membuktikan jika seorang muslim yang meneladani sikap teladan Nabi Muhammad, mereka akan berusaha dan selalu bersungguh-sungguh.
Santri dikenal akan ilmu agama nya, maka wajib untuk memiliki rasa tanggung jawab moral untuk menjaga nama baik pesantren serta identitasnya di lingkungan masyarakat. Perlunya mengedepankan adab serta merendahkan hati ketika bermasyarakat. Ilmu yang diperoleh di pesantren wajib untuk kita amalkan serta terapkan.
Anggapan terkait santri yang pemalas dan tidak bisa kerja berat merupakan stigma yang salah dan tidak bisa digeneralisasi hanya karena ulah oknum. Kehidupan di dalam pesantren tidak hanya berkutat dengan kitab akan tetapi juga belajar bertanggung jawab disegala situasi untuk bekal kehidupan bermasyarakat.
Itulah pembahasan terkait santri yang tidak bisa bekerja serta stigma masyarakat yang mencoreng citra santri. Semoga kita sebagai masyarakat tidak menyamaratakan hanya karena ulah oknum yang menyalahgunakan identitas santri.
Penulis: Lintang Suryaningrum