Alfatihah.com – Tren marriage is scary mungkin bukan lagi menjadi hal asing yang baru terdengar. Pasalnya, di seluruh sosial media banyak kalangan muda yang ikut meramaikan tren ini karena mereka menilai jika menikah di era saat ini terasa tidak worth it sebab banyak permasalahan dalam kehidupan rumah tangga yang semakin parah.
Mulai dari kasus KDRT, perselingkuhan dengan orang ketiga, masalah ekonomi, bahkan soal anak. Lalu sebenarnya pernikahan itu seperti apa? Mengapa saat ini banyak ruang sosial yang masih menjadikan pernikahan itu merupakan konsep keberhasilan bagi anak perempuan.
Lalu benarkah kehidupan seorang anak perempuan hanya ditentukan karena telah menikah di usia muda? Yuk simak lebih lanjut!
Di era perkembangan digital saat ini, masih saja banyak orang yang beranggapan jika anak perempuan itu harus segera menikah jika sudah menginjak usia 20 tahunan. Orang tua merasa berhasil dan sukses jika sudah menikahkan anak gadisnya di usia tergolong masih muda.
Mereka tidak peduli terhadap gelar maupun pendidikan yang telah diraih, karir yang sedang diperjuangkan, atau bahkan komunitas yang sedang diikuti. Kalau belum segera menikah, maka mereka dianggap belum sempurna.
Namun, tak jarang banyak anak perempuan yang belum siap untuk menikah atau bahkan mengalami syndrome marriage is scary yang dimana takut menjalin hubungan pernikahan karena melihat banyak fenomena mengerikan yang terjadi setelah pernikahan.
Faktanya, Islam tidak mengharuskan seorang wanita untuk menikah. Islam tidak pernah menjadikan jika pernikahan itu sebagai kewajiban yang mutlak. Bahkan, di dalam Al-Qur’an saja tidak ada satu ayat pun yang mewajibkan bagi perempuan untuk menikah.
Bahkan, banyak sekali sosok perempuan hebat dalam sejarah Islam yang terkenal karena keberanian, kebijaksanaan, dan pengabdiannya bukan karena pernikahan. Misalnya saja sosok Sayyidah Maryam yang dikisahkan dalam Al-Qur’an karena ketakwaan dan pengorbanannya bagi Nabi Isa AS bukan karena suaminya.
Itu artinya, keutamaan seorang perempuan itu bukan dianggap karena telah sukses menikah di usia muda. Melainkan oleh nilai dan makna yang ada dalam dirinya. Tak hanya itu, Islam merupakan agama yang sangat terbuka yang memberikan ruang bagi perempuan atas pilihan rasionalnya.
Tren marriage is scary bukanlah hal yang salah namun bukan berarti juga sepenuhnya dibenarkan. Jika seorang perempuan memilih untuk tidak menikah demi menjaga kesehatan mental, menghindari relasi merugikan, dan menata hidupnya agar lebih merdeka, maka pilihannya tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Selama ia bisa bertanggung jawab dan masih sesuai dengan ajaran syariat, maka hal itu diperbolehkan. Jika hidupnya akan diubah hanya fokus untuk ladang kebaikan, maka Allah SWT justru akan selalu bersama dalam membantunya.
Perempuan yang tidak menikah bukan berarti telah gagal, ia tetap bisa menjadi seorang pendidik dalam membentuk generasi peradaban. Tak hanya itu, ia juga bisa menjadi relawan sosial yang bermanfaat.
Tren marriage is scary memang tidak salah, tetapi kita juga tidak bisa menormalisasikannya begitu saja. Islam tetap memberikan kewajiban menikah bagi siapa saja yang mampu melaksanakannya.
Menikah bisa menjadi hal yang indah dan ladang ibadah jika dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab bukan paksaan karena manusia diciptakan saling berpasang-pasangan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Artinya: “Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Ad-Dzariyat: 49)
Pada dasarnya, menikah tetaplah worth it jika menemukan pasangan yang tepat. Karena jika menikah ditujukan untuk ibadah dan memperbaiki diri, maka pasti Allah SWT juga akan mudahkan setiap jalannya.
Itulah tadi pembahasan mengenai tren marriage is scary dan kaitannya dalam Islam. Tren ini tidak sepenuhnya dilarang asalkan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Namun, jika telah mampu seorang perempuan juga diwajibkan untuk menikah.
Jika perempuan memiliki trauma atau ketakutan untuk menikah, maka persiapkan diri, finansial, pendidikan, karir, mental, dan fisik dengan baik. Jika menikah telah dipersiapkan dengan matang dan menemukan pasangan yang cocok, maka tren marriage is scary bisa menjadi marriage is happy.
Penulis: Suci Wulandari