Alfatihah.com – Orang tua tentu ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang jujur, sopan, sabar, dan dekat dengan Allah SWT. Karena itu, berbagai nasihat sering diberikan sejak anak masih kecil. Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting dalam proses pendidikan anak, yaitu keteladanan.
Anak banyak belajar dengan mengamati apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Cara orang tua berbicara, menghadapi masalah, menjalankan ibadah, bahkan memperlakukan orang lain dapat menjadi contoh yang diperhatikan anak setiap hari.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut mengingatkan pentingnya keteladanan. Lalu, apa saja pelajaran yang dapat dipahami orang tua?
Nasihat dapat membantu anak mengetahui mana yang baik dan buruk. Namun, contoh nyata membuat anak melihat bagaimana sebuah nilai diterapkan dalam kehidupan.
Jika orang tua ingin anak berkata jujur, misalnya, anak perlu melihat bahwa orang tuanya juga berusaha berkata jujur dalam berbagai keadaan. Begitu pula ketika mengajarkan sopan santun, kesabaran, atau kepedulian.
Keteladanan membuat nilai yang diajarkan tidak berhenti sebagai teori.
Anak menghabiskan banyak waktu di lingkungan keluarga. Karena itu, kebiasaan yang berulang dapat menjadi sesuatu yang familiar bagi mereka.
Ketika orang tua terbiasa mengucapkan salam, berdoa sebelum makan, membaca Al-Qur’an, menjaga ucapan, atau meminta maaf ketika melakukan kesalahan, anak mendapatkan contoh yang dapat mereka ikuti.
Tidak berarti anak akan selalu meniru setiap perilaku orang tua. Namun, lingkungan keluarga tetap menjadi salah satu tempat penting bagi pembentukan kebiasaan dan karakter.
Pendidikan tidak hanya terjadi ketika orang tua sedang memberikan nasihat. Cara menghadapi konflik dan kesulitan juga dapat menjadi pembelajaran bagi anak.
Misalnya, ketika menghadapi masalah, orang tua berusaha menenangkan diri sebelum berbicara. Ketika melakukan kesalahan, orang tua berani mengaku dan meminta maaf.
Dari situ, anak dapat belajar bahwa marah bukan satu-satunya cara menghadapi masalah dan bahwa mengakui kesalahan bukan sesuatu yang memalukan.
Menjadi teladan bukan berarti orang tua harus selalu benar. Orang tua juga manusia yang dapat lelah, salah, atau kehilangan kesabaran.
Yang penting adalah menunjukkan kepada anak bagaimana memperbaiki kesalahan. Ketika orang tua meminta maaf setelah berkata terlalu keras, misalnya, anak belajar bahwa seseorang perlu bertanggung jawab atas perkataannya.
Dengan demikian, keteladanan bukan tentang menunjukkan diri sebagai orang yang sempurna, tetapi memperlihatkan proses untuk terus memperbaiki diri.
Nasihat tetap memiliki tempat penting dalam pendidikan anak. Anak perlu diberi penjelasan tentang nilai, aturan, dan alasan di balik suatu perilaku. Namun, nasihat akan lebih mudah dipahami ketika anak juga melihat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ketika ingin mengajarkan anak tentang kejujuran, orang tua dapat menunjukkan kejujuran. Ketika ingin mengajarkan kesabaran, orang tua dapat berusaha mengelola emosi. Ketika ingin anak mencintai Al-Qur’an, orang tua dapat membangun kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur’an di rumah.
Rasulullah ﷺ sendiri menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Inilah yang membuat pendidikan melalui contoh memiliki tempat penting dalam pembentukan akhlak.
Pada akhirnya, anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat yang pernah diberikan. Namun, kebiasaan yang mereka lihat berulang kali dapat menjadi pengalaman yang membekas.
Karena itu, pendidikan anak dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: “Apakah perilaku yang kita harapkan dari anak sudah mulai kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari?”
Selain terus belajar tentang parenting Islami dan keteladanan dalam keluarga, jangan berhenti menambah ilmu agama agar kehidupan semakin terarah. Temukan lebih banyak artikel Islami tentang akhlak, rezeki, doa, shalat, sedekah, zakat, Al-Qur’an, kisah teladan, parenting Islami, hingga inspirasi kehidupan muslim hanya di Alfatihah.com.
Semoga Allah membantu para orang tua menjadi teladan yang baik dan membimbing anak-anak tumbuh dengan iman, akhlak, serta kebiasaan yang baik. Aamiin.
Penulis: Santi Puspita Ningrum