Alfatihah.com – Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu tidak pernah dipandang sekadar sebagai kumpulan keterangan yang bisa dipindahkan dari kitab ke kepala. Ia berpindah lewat orang. Karena itu para ulama terdahulu menaruh perhatian besar bukan hanya pada apa yang dipelajari, melainkan pada siapa yang mengajarkannya.
Imam Malik pernah berkata bahwa ilmu ini adalah agama, maka hendaklah seseorang memperhatikan dari siapa ia mengambil agamanya. Kalimat itu lahir dari zaman ketika belajar berarti duduk berhadapan, dan hari ini maknanya justru menjadi lebih relevan, bukan berkurang, ketika belajar bisa dimulai hanya dengan mengetik di kolom pencarian.
Membaca Al-Qur an bukan ilmu yang bisa disimpulkan sendiri dari buku. Ia diambil dengan cara didengar dan ditirukan, dari guru yang juga pernah mendengar dan menirukan. Menanyakan kepada siapa seorang pengajar belajar bukan sikap mencurigai; itu justru adab yang diwariskan.
Banyak orang dewasa menunda belajar mengaji bukan karena tidak sanggup, melainkan karena malu. Guru yang tidak menunjukkan keheranan saat muridnya keliru pada huruf paling sederhana jauh lebih berharga daripada guru yang hafalannya banyak tetapi membuat muridnya menciut.
Ada guru yang ingin muridnya cepat maju, lalu memaksakan tambahan sebelum yang sebelumnya mantap. Belajar Al-Qur an tidak berlomba dengan siapa pun. Yang penting bukan seberapa jauh sampai, melainkan seberapa benar yang sudah dilewati.
Ini yang paling banyak berubah di zaman daring. Dahulu seorang guru dikenal oleh kampungnya sendiri. Sekarang siapa pun bisa membuka kelas tanpa seorang pun tahu latar belakangnya. Karena itu penyelenggara yang menampilkan profil pengajarnya secara terbuka, lengkap dengan tempat ia belajar dan pengalaman mengajarnya, memudahkan calon murid menjalankan adab lama tadi. Daftar guru ngaji online yang bisa dilihat sebelum memutuskan adalah bentuk kemudahan itu.
Guru yang tidak keberatan bertemu sekali untuk berkenalan sebelum ada kesepakatan apa pun menunjukkan bahwa yang ia cari bukan sekadar murid, melainkan kecocokan.
Kelima hal itu tidak menuntut ilmu yang tinggi untuk diperiksa. Ia hanya menuntut kesediaan untuk tidak terburu-buru, dan itu pun sebenarnya bagian dari adab menuntut ilmu.
Baca Juga : Jangan Sampai Al-Qur’an Hanya Menjadi Pajangan, Ada 8 Kerugian yang Mengintai