Alfatihah.com – Hikmah bersyukur dapat dirasakan ketika seseorang mulai menyadari berbagai nikmat yang telah dimilikinya. Manusia sering lebih mudah melihat apa yang belum dimiliki daripada menyadari nikmat yang sudah ada. Kita sibuk mengejar sesuatu hingga lupa bahwa kesehatan, keluarga, waktu, kesempatan beribadah, dan berbagai hal sederhana merupakan karunia Allah SWT.
Dalam Islam, bersyukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah ketika mendapatkan kabar baik. Syukur berarti menyadari bahwa setiap nikmat berasal dari Allah dan menggunakannya untuk kebaikan.
Allah SWT berfirman:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Tidak semua nikmat hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. Kemampuan bernapas, bangun dalam keadaan sehat, menikmati makanan, berkumpul bersama keluarga, hingga memiliki kesempatan untuk beribadah adalah nikmat yang sering dianggap biasa.
Ketika terbiasa bersyukur, kita tidak hanya fokus pada apa yang belum dimiliki, tetapi mulai menyadari banyaknya kebaikan yang telah Allah berikan.
Keinginan manusia tidak pernah habis. Setelah mendapatkan sesuatu, sering muncul keinginan lain. Jika tidak diiringi rasa syukur, hati akan terus merasa kurang.
Bersyukur membantu seseorang menerima nikmat Allah tanpa berhenti berusaha. Kita tetap boleh memiliki cita-cita, tetapi tidak menjadikan sesuatu yang belum dimiliki sebagai alasan untuk terus merasa tidak bahagia.
Dengan bersyukur, hati belajar merasa cukup sekaligus tetap berusaha menjadi lebih baik.
Membandingkan kehidupan dengan orang lain dapat membuat kita lupa terhadap nikmat sendiri. Melihat orang lain lebih sukses, lebih kaya, atau memiliki kehidupan yang terlihat lebih nyaman dapat menumbuhkan rasa kurang.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa: 32)
Bersyukur membantu kita fokus pada perjalanan sendiri. Keberhasilan orang lain boleh menjadi inspirasi, tetapi bukan alasan untuk merendahkan kehidupan yang sedang kita jalani.
Syukur bukan hanya dilakukan ketika keadaan menyenangkan. Dalam kesulitan pun, seorang muslim dapat belajar menemukan hikmah dan tetap mengingat nikmat Allah.
Ujian mungkin terasa berat, tetapi dapat mengajarkan kesabaran, memperkuat keimanan, dan membuat kita lebih menghargai nikmat yang sebelumnya tidak disadari.
Karena itu, seorang mukmin belajar bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan bersabar ketika menghadapi ujian.
Syukur tidak berhenti pada ucapan. Nikmat yang Allah berikan seharusnya digunakan untuk kebaikan.
Jika memiliki harta, kita dapat membantu keluarga dan bersedekah. Jika memiliki ilmu, kita dapat membagikannya. Jika diberikan kesehatan dan tenaga, kita dapat menggunakannya untuk beribadah dan membantu sesama.
Dengan begitu, syukur menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Bersyukur bukan berarti menerima keadaan tanpa berusaha. Seorang muslim tetap boleh memiliki cita-cita, memperbaiki kondisi hidup, dan mengejar sesuatu yang lebih baik.
Namun, semua itu dilakukan tanpa melupakan nikmat yang telah dimiliki.
Kita dapat mengejar impian sambil tetap berkata alhamdulillah. Kita dapat menginginkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus membenci kehidupan yang sedang dijalani.
Mari membiasakan diri melihat nikmat sebelum melihat kekurangan, bersyukur sebelum mengeluh, dan menggunakan setiap karunia Allah untuk kebaikan.
Temukan berbagai artikel Islami lainnya di Alfatihah.com, mulai dari pembahasan akidah, tauhid, Al-Qur’an, shalat, doa, sirah Nabi, sedekah, hingga berbagai pengingat kebaikan.
Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur dan menggunakan setiap nikmat untuk semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.
Penulis: Santi Puspita Ningrum