Alfatihah.com – Please normalisasi merupakan merupakan kata-kata yang sering kali digunakan anak muda saat ini untuk merujuk pada hal-hal yang mereka anggap adalah hal biasa dan boleh untuk dilakukan meskipun aturannya sebenarnya adalah tidak boleh.
Tren please normalisasi bisa jadi menyesatkan dan justru bertentangan dengan syariat Islam. Contohnya saja “please normalisasi nakal sebelum menikah” jadi pas sudah menikah masa nakalnya sudah selesai atau juga “please normalisasi main-main yang puas selagi masih muda dan berpenghasilan sendiri” sebelum nanti sudah berumah tangga.
Kata-kata tersebut sering kali digunakan banyak orang untuk menjadi tameng pelindung diri untuk menormalisasikan banyak hal yang terkadang itu bukan hal yang semestinya. Lalu bagaimana Islam memandang hal ini? Simak lebih lanjut!
Tren please normalisasi ini dan itu banyak sekali bermunculan. Meskipun tujuan awalnya untuk mencoba membangun kesadaran agar lebih mengerti perasaan satu sama lainnya, justru makin kesini kalimat tersebut digunakan untuk hal-hal yang tidak seharusnya dan melenceng dalam syariat Islam.
Allah SWT telah mengingatkan kita sebagai manusia bahwasannya tren yang sering digunakan oleh masyarakat bukan berarti hal yang harus dibenarkan semuanya.
Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
Artinya: “Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An’am: 116)
Ayat diatas menegaskan jika segala hal yang dilakukan oleh mayoritas orang adalah hal yang diakui kebenarannya dan dapat diikuti. Hanya karena hal tersebut dianggap normal orang sekelompok orang maka kita kemudian langsung melakukan hal yang sama.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (Hadits Riwayat Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا
Artinya: “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” (Hadits Riwayat Tirmidzi no. 2695)
Tidak semua hal yang dinormalisasikan semua orang adalah hal yang benar di mata Allah SWT. Duniawi sering kali menormalisasi sesuatu hanya berdasarkan prasangka-prasangka dan perasaan yang kebenarannya tidak dapat dijamin.
Tak jarang, orang-orang yang menjunjung tinggi tren please normalisasi itu sebenarnya muncul dari ego yang tidak ingin disalahkan. Kita sebagai manusia sering kali lelah karena dihadapkan pada standar kebaikan pada umumnya.
Satu-satunya cara yang dapat kita lakukan agar tidak merasa bersalah terhadap diri sendiri adalah dengan mengajak orang untuk tidak menormalisasikan semua hal karena tidak semuanya dapat dinormalisasikan.
Dalam Islam, ada nilai-nilai syariat yang harus tetap ditegakkan meskipun tidak selalu mengikuti perkembangan zaman. Ada ego yang harus dikontrol dan tetap dididik supaya tidak melenceng dari hal-hal yang sudah seharusnya bukan justru malah dimaklumi.
Ketika kita menormalisasikan hal yang salah pasti akan membuat kita justru akan berhenti bertumbuh bukan mengubah diri. Jika kita ingin bertumbuh lebih baik, sudah seharusnya kita dapat memilah dan memilih apa saja hal yang perlu dinormalisasikan dan tidak perlu dinormalisasikan.
Jika hal-hal tersebut menyimpang dari akidah dan ajaran Islam, maka sudah sepatutnya kita tidak menormalisasikan hal tersebut. Tetaplah menormalisasikan hal-hal yang memang perlu dan sebaiknya tidak menjadi bagian dari orang-orang yang menormalisasikan hal-hal aneh.
Itulah tadi pembahasan mengenai tren please normalisasi dalam pandangan Islam. Pada hakikatnya, kebenaran akan selalu dianggap benar meskipun tidak ada satu orang pun yang melakukannya. Allah SWT adalah kendali sesungguhnya dan akan memberikan hal-hal sesuai dengan apa yang hamba-Nya kerjakan.
Kesalahan tetaplah salah meskipun seluruh dunia melakukan dan menormalisasikannya. Islam mempunyai aturan terhadap segala hal dan sebagai hamba yang bertakwa, hendaknya kita dapat mengikuti aturan yang telah Allah SWT buat dan tetapkan.
Penulis: Suci Wulandari