Alfatihah.com – Di dunia ini ada banyak tipe-tipe manusia dan salah satunya adalah orang yang merasa harus bertanggung jawab atas pilihan hidup orang lain. Mereka merasa bangga jika orang lain mengikuti nasehat dan arahannya sampai berhasil, dan jika mereka gagal untuk meraihnya mereka juga akan merasa bersalah karena gagal mengubah hidup orang lain.
Berbuat baik merupakan hal yang patut kita lakukan dimanapun dan kapanpun. Namun, ada kalanya juga kita harus menetapkan batasan antara membantu atau justru malah memaksa orang lain untuk dapat mengikuti apa yang kita mau.
Kita mungkin sering kali mendengar istilah jika berbuat baik adalah perbuatan yang mulia dan dilakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan timbal balik kepada siapapun. Lalu bagaimana jika orang yang sering kita bantu itu tidak tahu diri atau meremehkan bantuan dari kita?
Apakah dalam Islam tetap wajib untuk membantu seseorang yang memiliki sikap demikian? Jika kita belajar dari kisah Nabi Nuh AS ketika beliau gagal menyelamatkan anaknya dari banjir air bah yang semakin tinggi, beliau merasa hidupnya saat itu dalam titik terendah.
Saat air bah sudah mulai semakin naik tinggi, Nabi Nuh AS berteriak memanggil nama anaknya. Beliau memanggil dengan penuh kasih sayang dan berharap anaknya mau mengikuti arahannya untuk naik ke atas kapal agar bisa selamat dari banjir besar tersebut.
Namun bagaimana reaksi anak Nabi Nuh AS? Anak Nabi Nuh AS juga menghiraukannya, tidak mempercayai Nabi Nuh AS dan malah pergi meninggalkan begitu saja ketika Nabi Nuh AS sudah berusaha mengajaknya naik ke atas kapal.
وَهِيَ تَجْرِيْ بِهِمْ فِيْ مَوْجٍ كَالْجِبَالِۗ وَنَادٰى نُوْحُ ࣙابْنَهٗ وَكَانَ فِيْ مَعْزِلٍ يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الْكٰفِرِيْنَ
Artinya: “Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya, sedang dia (anak itu) berada di tempat (yang jauh) terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.” (QS. Hud: 42)
قَالَ سَاٰوِيْٓ اِلٰى جَبَلٍ يَّعْصِمُنِيْ مِنَ الْمَاۤءِۗ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ اِلَّا مَنْ رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِيْنَ
Artinya: “Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air (bah).” (Nuh) berkata, “Tidak ada penyelamat pada hari ini dari ketetapan Allah kecuali siapa yang dirahmati oleh-Nya.” Gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.” (QS. Hud: 43)
Dari kedua ayat diatas menegaskan jika orang terdekat sendiri dapat mengecewakan dan melukai hati kita, bagaimana mungkin jika kita bisa mengharapkan orang lain? Saat itu juga Nabi Nuh AS mengadu kepada Allah SWT mengenai anaknya yang tenggelam.
Orang tua mana yang tidak bersedih ketika kehilangan anak yang dicintainya?
قَالَ يٰنُوْحُ اِنَّهٗ لَيْسَ مِنْ اَهْلِكَۚ اِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْـَٔلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌۗ اِنِّيْٓ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ
Artinya: “Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik. Oleh karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Sesungguhnya Aku menasihatimu agar engkau tidak termasuk orang-orang bodoh.” (QS. Hud: 46)
Allah SWT mengingatkan Nabi Nuh AS jika ikatan iman itu lebih kuat bahkan daripada ikatan darah sekalipun. Keputusan untuk selamat maupun celaka itu ada di tangan masing-masing individu.
Kalau Nabi Nuh AS saja bisa gagal menyelamatkan anaknya, lalu bagaimana dengan kita yang hanya sebagai manusia biasa? Kita tidak selalu bisa menolong seseorang yang sebenarnya memang tidak mau untuk ditolong.
Sehingga dalam Islam, meskipun berbuat baik itu harus dilakukan tetapi bukan berarti kita mengesampingkan diri kita sendiri. Berbuat baik memang tetap menjadi kewajiban, namun jika mereka menolak untuk diarahkan, dan pada akhirnya memilih jalan yang salah, itu bukanlah tanggungan kita.
Kita tidak akan menanggung segala beban jika memang orang tersebutlah yang tidak mengikuti nasehat dari kita. Berbuat baik adalah kewajiban, tetapi memaksa kehendak orang lain juga bukan hal yang benar karena pada akhirnya hanya Allah SWT yang dapat membolak-balikan hati manusia untuk mengikuti kita atau tidaknya.
Tetap berikan nasehat terbaik dengan cukup, dan jangan lupa untuk senantiasa mendoakan kebaikan untuknya. Saat ini, cobalah untuk melepaskan tanggung jawab atas pilihan hidup orang lain karena kita sebagai manusia memiliki energi yang terbatas. Jika dihabiskan untuk mengurus orang lain, yang ada kita hanya akan lelah dan kecewa.
Itulah tadi pembahasan mengenai berbuat baik tidak harus ditunjukkan kepada semua orang dalam Islam. Pada dasarnya, tugas kita sebagai manusia adalah mengarahkan dan menasehati secukupnya.
Kita harus berhenti merasa gagal atas pilihan hidup orang lain. Terkadang bentuk berbuat baik juga membiarkan mereka belajar akibat dari perbuatan mereka sendiri.
Penulis: Suci Wulandari