Alfatihah.com – Budaya patriarki kerap muncul ketika tengah membahas ketidakadilan hubungan pria dan wanita. Dalam budaya ini, pria lebih tinggi kedudukannya daripada wanita. Seringkali wanita dianggap lebih rendah, seperti ketika pengambilan keputusan, peran, hingga penilaian derajat.
Wanita sering dipertanyakan kemampuannya mengurus rumah, seperti beberes, memasak, hingga ketika seorang pria selingkuh maka wanita akan dianggap tidak mampu untuk melayani suaminya. Lantas apakah budaya seperti ini akan terus diturunkan, dan bukankah pada zaman Rasulullah wanita dimuliakan?
Budaya patriarki merupakan sistem sosial dimana pria lebih diutamakan serta memegang kekuasaan utama. Dalam lingkungan sosial pria dianggap lebih mampu dalam pengambilan keputusan serta kekuasaan seperti dalam aspek kehidupan di lingkup keluarga, ekonomi, hingga bermasyarakat.
Seorang pria tidak pernah dipermasalahkan ketika mereka tidak bisa memasak, membantu pekerjaan rumah, mengurus anak. Seorang pria dianggap hanya bertugas mencari nafkah tanpa diharuskan bisa mengurus anak, mengurus rumah.
Dalam praktiknya, pria dianggap lebih rasional dan lebih pantas untuk memimpin. Pria dianggap lebih bisa mengambil keputusan karena mereka cenderung menggunakan logika, sementara wanita dianggap lebih mengedepankan perasaan serta emosional.
Dalam hal pendidikan, laki-laki dinilai lebih cocok untuk berpendidikan tinggi daripada wanita. Beberapa daerah menganggap remeh pendidikan wanita, mereka berpikir untuk apa wanita berpendidikan tinggi jika nantinya tugas mereka hanyalah mengurus dapur.
Banyak wanita yang mendapatkan gunjingan jika bekerja seadanya padahal background pendidikan yang tinggi, terlebih jika wanita tersebut sudah berkepala dua yang dimana mereka menganggap usia tersebut sudah waktunya untuk menikah. Wanita sering dianggap kalah jika dirinya belum menikah di usia yang hampir kepala tiga.
Pandangan seperti bukan terjadi setahun atau dua tahun belakangan ini, melainkan seperti tradisi dan kebiasaan yang turun temurun. Dampaknya yaitu wanita hanya dinilai dari fisik dan penampilan saja, tanpa memperhatikan kecerdasan serta kapasitas intelektualnya.
Islam datang untuk menghapus ketidakadilan terhadap wanita. Sebelum datangnya agama Islam wanita hanya dijadikan budak. Banyak yang membunuh putri mereka hanya karena takut anaknya akan menjadi budak. Dalam firman Allah SWT QS. Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha teliti”.
Dalam ayat tersebut sudah dijelaskan bahwa manusia diciptakan dari asal yang sama yaitu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Tidak ada tingkatan sosial untuk pria dan wanita, dimana artinya keduanya setara dalam hal apapun. Islam juga tidak membenarkan adanya pandangan yang merendahkan wanita.
Rasulullah SAW sangat memuliakan wanita. Beliau merupakan sosok yang mendengarkan pendapat istrinya. Tidak hanya itu, Rasulullah juga sering membela hak-hak wanita pada zamannya. Rasulullah SAW sangat mengecam keras perilaku zalim terhadap wanita. Seperti sabdanya:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)
Pada hadits tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan seorang pria diukur dari caranya memperlakukan wanita.
Itulah pembahasan terkait budaya patriarki, yang mana wanita sering dianggap rendah. Islam tidak membenarkan budaya patriarki, karena justru islam sangat memuliakan wanita beserta haknya.