Alfatihah.com – Fenomena kesurupan merupakan salah satu fenomena yang sampai saat ini belum diketahui penyebabnya secara pasti. Meskipun seringkali dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis, tetapi tidak juga diketahui secara pasti dengan cara ilmiah.
Fenomena kesurupan bukan lagi menjadi hal yang asing sebab ada banyak orang yang beranggapan dapat melihat makhluk halus bahkan sampai melakukan komunikasi sehingga jika energinya terlalu kuat maka bisa sampai membuat seseorang kesurupan.
Terdapat banyak dalil dari Alquran dan hadis yang menggambarkan jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia, di antaranya:
اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Artinya: “Orang-orang yang memakan (bertransaksi dengan) riba tidak dapat berdiri, kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan. Demikian itu terjadi karena mereka berkata bahwa jual beli itu sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Siapa pun yang telah sampai kepadanya peringatan dari Tuhannya (menyangkut riba), lalu dia berhenti sehingga apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Siapa yang mengulangi (transaksi riba), mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam majmul fatawa menyebutkan:
Abdullah bin Imam Ahmad pernah bertanya kepada ayahnya,
إنَّ قَوْمًا يَزْعُمُونَ أَنَّ الْجِنِّيَّ لَا يَدْخُلُ فِي بَدَنِ الْإِنْسِيِّ
Artinya: “Sesungguhnya ada beberapa orang yang berpendapat, jin tidak bisa masuk ke badan manusia.”
Imam Ahmad menjawab,
يَا بُنَيَّ يَكْذِبُونَ هُوَ ذَا يَتَكَلَّمُ عَلَى لِسَانِهِ
Artinya: “Wahai anakku, mereka dusta. Jin itulah yang berbicara dengan lisan orang yang dirasuki.”
Setelah membawakan keterangan ini, Syaikhul Islam memberi komentar,
وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ أَمْرٌ مَشْهُورٌ فَإِنَّهُ يَصْرَعُ الرَّجُلَ فَيَتَكَلَّمُ بِلِسَانٍ لَا يَعْرِف مَعْنَاهُ وَيُضْرَبُ عَلَى بَدَنِهِ ضَرْبًا عَظِيمًا لَوْ ضُرِبَ بِهِ جَمَلٌ لَأَثَّرَ بِهِ أَثَرًا عَظِيمًا. وَالْمَصْرُوعُ مَعَ هَذَا لَا يُحِسُّ بِالضَّرْبِ وَلَا بِالْكَلَامِ الَّذِي يَقُولُهُ
Artinya: “Apa yang disampaikan Imam Ahmad adalah masalah yang terkenal di masyarakat. Orang yang kerasukan berbicara dengan bahasa yang tidak bisa dipahami maknanya. Terkadang dia dipukul sangat keras, andaikan dipukulkan ke unta, pasti akan menimbulkan sakit. Meskipun demikian, orang yang kesurupan tidak merasakan pukulan dan tidak menyadari ucapan yang dia sampaikan.”
Syaikhul Islam juga menegaskan,
ومن شاهدها أفادته علماً ضرورياً بأن الناطق على لسان الإنس ، والمحرك لهذه الأجسام جنس آخر غير الإنسان
Artinya: “Orang yang menyaksikan kejadian kesurupan, dia akan mendapatkan kesimpulan yang meyakinkan bahwa yang bicara dengan lidah manusia dan yang menggerakkan badannya adalah makhluk lain, selain manusia.” (Majmu’ al-Fatawa, 24:277)
Kita hidup memang berdampingan dengan makhluk gaib yang dimana mereka bisa melihat kita sedangkan kita tidak bisa melihat mereka. Fenomena kesurupan bisa saja terjadi kepada manusia lewat beberapa faktor dibawah ini:
Jin yang menyukai manusia akan seringkali mengikuti kemanapun manusia pergi sehingga jika manusia kesurupan justru akan membuat jin ini merasa senang karena memiliki waktu bersama yang lama.
Seringkali manusia lupa jika hidupnya berdampingan dengan jin sehingga ia tidak menghormati makhluk tak kasat mata tersebut.
Tak heran jika banyak manusia yang tidak memiliki adab seperti kencing di sembarangan tempat yang dimana bisa jadi itu adalah tempat tinggal jin. Karena manusia tidak sopan, akhirnya jin bisa mengganggu dengan merasuki tubuhnya.
Terkadang ada manusia yang memiliki niat buruk seperti ingin menjadikan usaha seseorang bangkrut, keluarganya sakit-sakitan, dan lain-lain yang membuat seseorang sering kesurupan karena makhluk kiriman dari orang lain.
Biasanya kesurupan jenis ini bisa terjadi secara terus menerus dan berkelanjutan karena jin yang dibawa adalah jin yang sifatnya jahat dan suka menirukan orang lain seperti dari gaya berbicara ataupun bersikap.
Itulah tadi mengenai fenomena kesurupan dalam pandangan Islam dan penyebab seseorang bisa mengalami kesurupan. Meskipun fenomena ini belum bisa dibuktikan secara pasti melalui hal-hal ilmiah, namun sebagai seseorang yang beriman hendaknya kita bisa senantiasa meningkatkan ketakwaan terhadap Allah SWT agar selalu dijaga.
Penulis: Suci Wulandari