Alfatihah.com – Me time termasuk salah satu istilah yang sudah tidak asing lagi terdengar di kalangan anak muda terutama gen z. Saat ini, istilah menyendiri seringkali dikaitkan seseorang dengan menghabiskan waktu hanya untuk scroll sosial media berjam-jam dan rebahan seharian atau juga pergi ke tempat kesukaan sendirian.
Tanpa disadari, waktu berlalu begitu saja dengan cepat tanpa melakukan suatu hal yang bermanfaat dan hanya menghasilkan lelah yang terus berkepanjangan serta kekosongan hati.
Padahal dalam Islam, waktu adalah nikmat besar yang sangat dihargai. Rasulullah Saw bersabda, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu darinya: kesehatan dan waktu luang” (Hadist Riwayat Bukhari).
Sebelum dikenal luas pada zaman sekarang ini, sebenarnya Rasulullah SAW juga sudah pernah melakukan me time. Rasulullah SAW kerapkali mengasingkan diri ke Gua Hira. Di Gua Hira, Rasulullah SAW selalu menyendiri dan mengasingkan diri, merenungi kehidupan umatnya selama di dunia, serta berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kebiasaan menyendiri Nabi Muhammad SAW ini bahkan diriwayatkan dalam hadits sahih dari Aisyah RA: “Beliau menyendiri di Gua Hira selama beberapa malam, lalu pulang kepada keluarganya untuk mengambil bekal, kemudian kembali lagi.” (Hadist Riwayat Bukhari)
Dijelaskan bahwa beliau menetap di Gua Hira selama sebulan penuh setiap tahun. Di sana, beliau benar-benar menenggelamkan diri dalam keheningan dan menghadapkan hati pada tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang terpampang di sekitarnya.
فيقيم في حراء شهرا من كل سنة، ويقضي وقته في التفكير فيما حوله من مشاهد الكون، وفيما وراءها من قدرة مبدعة
Artinya: “Beliau (Nabi Muhammad) tinggal di Gua Hira selama satu bulan setiap tahun, dan menghabiskan waktunya untuk merenungi berbagai kondisi alam semesta di sekelilingnya, serta memikirkan kekuatan penciptaan luar biasa yang berada di balik semua kejadian yang menyertai.” (Musa bin Rasyid al-‘Azhimi, Al-Lu’lu’ul Maknun fi Siratin Nabiyil Ma’mun, [Kuwait: Maktabah al-‘Azimiah, 2011] jilid 1, hal. 166)
Berdasarkan hadist diatas dapat terlihat jika Rasulullah SAW mengasingkan diri dan menyendiri bukan hanya untuk kesenangan semata. Namun juga menjadi sarana untuk mendapatkan ketenangan jiwa maupun menambah spiritualnya.
Dalam Fiqhus Sirah, Syekh Muhammad al-Ghazali menegaskan bahwa Rasulullah membersihkan jiwa dan memoles hatinya agar siap menerima wahyu dan amanah kenabian.
“Beliau menyucikan jiwanya, mendekat kepada kebenaran semampunya, dan menjauh dari kebatilan sebisanya, hingga mencapai kejernihan jiwa pada tingkatan tertinggi.” (Fiqhus Sirah, hal. 90) Dalam sirah lainnya disebutkan bahwa Rasulullah menghabiskan satu bulan penuh setiap tahun di Gua Hira. Waktu tersebut diisi dengan renungan mendalam terhadap keajaiban alam dan kekuasaan Sang Pencipta.
Dari peristiwa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tersebut kita bisa mengambil sebuah pelajaran bahwasannya me time bukan hanya menjadi sebuah tren kalangan anak muda semata melainkan juga sebagai bentuk ketakwaan seorang hamba kepada tuhan-Nya.
Menyendiri bukan hanya sebagai sebuah bentuk pelarian dan gaya hidup melainkan sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki hati, dan menata sikap. Aktivitas menyendiri inilah juga sangat penting bagi anak muda.
Menyendiri adalah salah satu bentuk sarana bagi seseorang untuk mengevaluasi diri dan menjadi sebuah pengingat agar senantiasa berbuat kebaikan. Bukan hanya sebuah tren kekinian, menyendiri juga berguna untuk tetap menyehatkan jiwa dan pikiran agar emosional tetap terkontrol dengan baik.
Menyendiri dengan senantiasa mengingat Allah SWT akan membuat hati jauh lebih tenang. Bukan hanya sekedar makan enak, nongkrong, bercengkrama dengan seseorang sampai lupa waktu tetapi ketenangan yang sebenarnya adalah dengan mengingat Allah SWT dan me time itu digunakan sebagai salah satu sarananya.
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Dalam Islam, menyendiri bukan hanya perihal menenangkan pikiran tetapi juga merawat iman dan menyucikan diri. Di dalam keheningan itulah seseorang bisa lebih jujur terhadap dirinya dan bisa berpikir secara jernih untuk menentukan arah hidup selanjutnya.
Dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, maka me time dalam Islam bukan hanya sekedar self healing dan self care biasa tetapi juga membuat jiwa saat kembali bisa menjadi lebih tenang dan lebih bijak dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Itulah tadi mengenai pentingnya me time dalam Islam. Menyendiri dalam Islam menekankan konsep untuk merenung dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan dalam hidup. Me time bukan hanya sekedar pergi sendirian tetapi juga menyeimbangkan hubungan antara Allah SWT dan juga manusia.
Penulis: Suci Wulandari