Alfatihah.com – Islam merupakan agama yang indah dan datang dari Sang Pencipta untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ajaran baik seperti memuliakan manusia adalah hal yang tidak merusak syariat Islam.
Oleh karenanya, Islam melarang umatnya untuk berbuat kerusakan, seperti tajassus ini. Tentu saja, sebagai mukmin yang baik, tujuan kita hidup di dunia adalah untuk meraih ridha-Nya.
Harus bisa mengambil langkah konkret untuk saling menghormati, bukan saling mencari kesalahan. Berikut penjelasan mengenai pengertian hingga nasihat tajassus.
Secara bahasa, dalam kamus literatur bahasa Arab (Lisan al-’Arab karangan Imam Ibnu Manzhur), tajassus ini berarti “bahatsa ‘anhu wa fahasha” yang artinya mencari berita atau menyelidikinya.
Sedangkan dalam kamus karangan orang Indonesia (Al-Bishri), tajasuss berasal dari kata “jassa-yajussu-jassan”. Setelah itu ada tambahan huruf “ta” di awal kata dan “sin tasydid” di akhir kata menjadi “tajassasa-yatajassasu-tajassusan” yang artinya memata-matai atau menyelidiki.
Setelah pengertian secara bahasa, ada juga pengertian dari para ulama. Ada setidaknya tiga ulama yang mengungkapkan makna dari tajassus, yaitu diantaranya:
“Para ahli tafsir mengatakan, ‘tajassus adalah mencari-cari keburukan dan cacat kaum Muslimin. Maka makna ayat di atas adalah janganlah salah seorang diantara kamu mencari-cari keburukan saudaranya untuk diketahuinya, padahal Allâh Azza wa Jalla menutupinya” (Al Kabair, hlm. 159)
“Janganlah sebagian kamu mencari-cari keburukan orang lain, dan janganlah menyelidiki rahasia-rahasianya untuk mencari keburukan-keburukannya. Hendaklah kamu menerima urusannya yang nampak bagi kamu, dengan yang tampak itu hendaknya kamu memuji atau mencela, bukan dengan rahasia-rahasianya yang tidak kamu ketahui.” (Tafsir ath-Thabari, 22/304)
“Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘janganlah kamu melakukan tajassus, janganlah kamu melakukan tahassus’, ada yang mengatakan bahwa kedua kata itu memiliki makna yang sama, yaitu: mencari tahu berita-berita. Ada yang mengatakan: keduanya berbeda, tahassus yaitu engkau berusaha mendengarnya sendiri, sedangkan tajassus yaitu engkau menyelidiki berita-berita lewat orang lain. Ada yang mengatakan: tahassus adalah berusaha mendengar pembicaraan orang-orang, sedangkan tajassus adalah mencari-cari keburukan-keburukan. Dari sini dan lainnya diketahui, bahwa seseorang tidak boleh mencuri dengar dari rumah orang lain, dan tidak boleh mencium atau menyentuh pakaian orang lain, agar dia mendengar atau mendapatkan bau atau mendapati kemungkaran. Dan tidak boleh mencari berita dari anak kecil suatu rumah, atau dari tetangganya, untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam rumah tetangganya. Memang benar, jika ada seseorang yang jujur memberitakan berkumpulnya orang-orang yang sedang melakukan maksiat, boleh menerobos mereka dengan tanpa idzin, ini dikatakan oleh al-Ghazali”. (Az-Zawajir ‘an Iqtirâfil Kabâir, 2/268)
Ada beberapa nasihat bagi orang yang senang melakukan tajassus. Hal ini di ungkapkan langsung oleh beberapa ulama di dalam hadits.
Nasihat yang pertama yaitu belajar untuk husnudzon. Dimana orang-orang yang suka tajassus adalah berawal dari prasangka yang buruk (su’udzon) terhadap orang lain. Jadi, berhenti mencari kesalahan orang lain dan jangan banyak menaruh curiga tanpa bukti yang jelas.
عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – أَنَّ قَوْمًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ قَوْمًا يَأْتُونَنَا بِاللَّحْمِ لاَ نَدْرِى أَذَكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ أَمْ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم –سَمُّوا اللَّهَ عَلَيْهِ وَكُلُوهُ
Dari Aisyah ra., ada suatu kaum mengatakan, “Wahai Rasulullah, ada suatu kaum membawa daging kepada kami dan kami tidak mengetahui apakah daging tersebut saat disembelih dibacakan bismillah atau tidak.” Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Ucapkanlah bismillah lalu makanlah” (HR. Bukhari no. 2057)
Daripada senang mencari-cari kesalahan orang lain, lebih baik memikirkan atau fokus pada aib sendiri. Karena setiap manusia bukanlah makhluk yang sempurna, dan diri memiliki aib dan dosa-dosanya masing-masing.
Tidak perlu berlebihan memikirkan kesalahan orang lain, sedangkan kesalahan diri sendiri pun seluas lautan. Percayalah, Allah SWT adalah seadil-adilnya hakim di akhirat kelak yang akan menghitung amal perbuatan kita di dunia.
يُبْصِرُ أَحَدُكُمْ القَذَاةَ فِي أَعْيُنِ أَخِيْهِ، وَيَنْسَى الجَذَلَ- أَوِ الجَذَعَ – فِي عَيْنِ نَفْسِهِ
Dari Abu Hurairah ra., berkata: “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 592. Syaikh Al Albani mengatakan riwayat ini shahih)
Alangkah baiknya untuk segera meninggalkan kebiasaan buruk dan merusak. Kemudian segera mencari keselamatan agar mendapatkan rida Allah SWT.
Dalam tulisan Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-’Abbad al-Badr tercantum, ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.” (Raudhah al-’Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’)
Demikianlah pembahasan mengenai pengertian serta nasihat tajassus. Perbuatan tercela ini alangkah baiknya segera dihindari karena merusak seorang Muslim menggapai rida-Nya.
Penulis: Ghina Shelda Aprelka