Alfatihah.com – Dalam kehidupan, manusia sering sibuk mengejar berbagai hal yang dianggap penting. Harta dikumpulkan, jabatan diperjuangkan, dan pencapaian menjadi kebanggaan. Namun, sebanyak apa pun yang dimiliki, semuanya akan ditinggalkan ketika seseorang menghadapi kematian. Tidak ada harta atau kedudukan yang dapat dibawa ke dalam kubur.
Islam mengajarkan bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sebenarnya. Allah SWT berfirman:
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh, kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)
Iman merupakan bekal utama seorang Muslim. Harta dan jabatan mungkin memberikan kenyamanan selama hidup, tetapi keduanya tidak dapat menggantikan kebutuhan manusia kepada Allah. Iman perlu dijaga melalui ibadah, doa, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berusaha menaati perintah-Nya.
Menjaga iman juga berarti terus memperbaiki hubungan dengan Allah. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat hati lupa bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih panjang daripada sekadar pencapaian duniawi.
Shalat menjadi kewajiban yang tidak seharusnya ditinggalkan karena kesibukan. Rasulullah ﷺ bahkan menyebut shalat pada waktunya sebagai salah satu amalan yang paling dicintai Allah.
أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا
“Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga shalat berarti menjaga hubungan dengan Allah di tengah berbagai urusan kehidupan. Karena itu, jangan sampai pekerjaan, jabatan, atau urusan dunia membuat kewajiban ini terus ditunda.
Bekal berikutnya adalah amal kebaikan. Bentuknya tidak selalu sesuatu yang besar. Bersedekah, membantu orang lain, memberi makan, berkata baik, menjaga amanah, dan meringankan kesulitan sesama juga merupakan kebaikan.
Allah SWT berfirman:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Ayat ini mengingatkan bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak sia-sia di hadapan Allah.
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Namun, selama masih hidup, kesempatan untuk kembali kepada Allah tetap terbuka. Taubat bukan hanya mengucapkan istighfar, tetapi juga menyesali kesalahan, meninggalkannya, dan berusaha memperbaiki dampaknya.
Jika pernah menyakiti orang lain, mintalah maaf. Jika memiliki utang atau amanah, tunaikan semampunya. Jangan menunggu sampai kesempatan hidup berakhir sebelum memperbaiki sesuatu yang masih bisa diperbaiki.
Ilmu yang dipelajari dan diamalkan dapat menjadi bekal yang manfaatnya lebih panjang. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara…” (HR. Muslim)
Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Karena itu, belajar agama dan membagikan ilmu yang baik kepada orang lain dapat menjadi bagian dari persiapan menuju akhirat.
Harta yang dimiliki tidak akan dibawa ketika seseorang meninggal. Namun, sebagian harta dapat menjadi amal ketika digunakan untuk kebaikan yang manfaatnya terus dirasakan. Inilah salah satu alasan sedekah jariyah layak dipersiapkan sejak masih memiliki kesempatan.
Tidak harus menunggu kaya untuk berbagi. Sesuai kemampuan, setiap Muslim dapat mengambil bagian dalam kebaikan yang memberikan manfaat bagi sesama.
Ketika kematian datang, harta dan jabatan tidak lagi menjadi ukuran. Yang akan dibawa adalah amal dan bekal yang telah dipersiapkan selama hidup. Karena itu, selagi masih diberi waktu, jangan menunda kesempatan untuk memperbaiki ibadah, bertaubat, menuntut ilmu, berbuat baik, dan berbagi.
Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk mempersiapkan bekal terbaik sebelum kembali kepada-Nya. Aamiin.
Selain terus belajar tentang kematian dan kehidupan akhirat, jangan berhenti menambah ilmu agama agar kehidupan semakin terarah. Temukan lebih banyak artikel Islami tentang akhlak, rezeki, doa, shalat, sedekah, zakat, Al-Qur’an, kisah teladan, parenting Islami, hingga inspirasi kehidupan muslim hanya di Alfatihah.com.
Penulis: Santi Puspita Ningrum