Alfatihah.com – Anxiety Disorder atau gangguan kecemasan seringkali di salah pahami oleh masyarakat. Banyak yang menganggap jika penderitanya dianggap berlebihan dalam rasa cemas, lemah iman, bahkan sering kali dianggap kurang tawakal atau kurang percaya atas kuasa Allah.
Pandangan yang seperti itu membuat penderitanya merasa takut, bersalah, tertekan, dan pastinya malu. Padahal penderita anxiety ini butuh pertolongan dan diyakinkan oleh orang sekitar. Akibat pandangan masyarakat dan rasa takut dari diri sendiri, penderita berujung enggan untuk mencari pertolongan.
Lantas bagaimana pendapat Islam akan hal ini?
Anxiety Disorder merupakan suatu kondisi kesehatan mental dimana penderitanya merasa takut dan khawatir terhadap situasi tertentu. Rasa cemas dan khawatir pada seseorang merupakan hal yang wajar, terutama pada situasi seperti wawancara, ujian, atau menunggu suatu hasil keputusan.
Memiliki rasa cemas juga dibutuhkan untuk membantu seseorang agar tetap waspada pada suatu hal, serta menyiapkan untuk kemungkinan kedepannya.
Namun, kecemasan yang dimiliki penderita Anxiety Disorder ini berbeda, pasalnya rasa cemas yang muncul datang secara berlebihan, terus menerus, hingga sulit untuk dikendalikan. Kecemasan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, karena reaksi berlebihan yang ditimbulkan, sehingga sulit untuk penderitanya menjalani aktivitas.
Gejala yang dialami pun tak selalu sama, bisanya berupa jantung yang berdebar, sesak napas, sulit tidur, pikiran negatif yang terus berulang, hingga mengalami serangan panik. Secara medis, kondisi seperti ini diakui sebagai penyakit yang berasal dari banyak faktor seperti genetik atau biologis, psikologis, atau mungkin lingkungan.
Tawakal menurut Islam yaitu sikap berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha secara maksimal atau setelah berikhtiar. Tawakal merupakan salah satu bentuk keyakinan pada kekuasaan Allah, bahwa hanya kepada nyalah kita berserah. Namun bukan berarti kita tidak memiliki rasa takut, sedih atau cemas sama sekali.
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: “dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3)
Dalam ayat tersebut menunjukkan jika orang yang bertawakal pada Allah maka akan dicukupi kebutuhannya. Hal tersebut menunjukkan jika kita telah berikhtiar semaksimal mungkin dan kemudian menyerahkan hasilnya pada Allah, maka akan memperoleh ketenangan hati.
Namun bukan berarti kita tidak memiliki rasa takut, sedih atau cemas sama sekali. Seorang manusia diciptakan dengan sifat lemah dan cemas. Hal itu dijelaskan pada ayat berikut:
اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ
Artinya: “Sesungguhnya manusia diciptakan dengan sifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19)
Dalam ayat tersebut dijelaskan jika cemas merupakan bagian dari sifat manusia. Oleh karena itu mengalami kecemasan bukan berarti seseorang tidak beriman atau bertawakal.
Sakit fisik maupun mental dalam Islam merupakan ujian dari Allah. Dalam riwayat nabi Muhammad SAW hal seperti itu dapat menjadi bentuk bahwa allah sedang menghapus bagian dosa-dosa nya. Anxiety Disorder bisa menjadi sarana penghapus dosa, bukan bukti bahwa seseorang tidak tawakal pada Allah.
Islam tidak pernah mengajarkan pasrah tanpa adanya usaha. Berobat atau mencari pertolongan merupakan bagian dari tawakal. Selain ikhtiar melalui tenaga medis, perlu juga untuk pendekatan spiritual. Hal yang dapat dilakukan yaitu seperti dzikir, sholat, membaca Al-quran, yang dapat menciptakan ketenangan hati.
Itulah pembahasan dan bagaimana pandangan dalam Islam. Memandang rendah penderita gangguan kecemasan justru dapat memperburuk kondisi mental mereka. Islam mengedepankan rasa empati, serta kasih sayang. Perlu untuk kita mendampingi dan membantu mereka, bukan memandang rendah atau meremehkannya.
Penulis: Lintang Suryaningrum