Apakah Menunda Shalat karena Sibuk Boleh? Simak 5 Penjelasan Fikih

Shalat Tetap Wajib Meskipun Sedang Sibuk

Alfatihah.com – Menunda shalat karena kesibukan sering kali dianggap sebagai hal yang biasa. Pekerjaan, rapat, perjalanan, mengurus keluarga, hingga berbagai aktivitas lainnya membuat sebagian orang merasa tidak memiliki waktu untuk melaksanakan shalat. Akibatnya, shalat baru dikerjakan setelah seluruh urusan selesai atau bahkan mendekati akhir waktunya.

Padahal, kesibukan bukan alasan untuk meninggalkan kewajiban shalat. Dalam Islam, setiap shalat fardu memiliki waktu yang telah ditentukan. Seorang muslim hendaknya mengatur aktivitasnya agar tetap dapat memenuhi panggilan Allah SW

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa: 103)

Lantas, bagaimana fikih memandang kebiasaan menunda shalat karena kesibukan?

Ada 5 Penjelasan Fikih tentang Menunda Shalat karena Sibuk

Menunda shalat tidak selalu memiliki hukum yang sama. Ada kondisi tertentu yang diperbolehkan, tetapi ada pula penundaan yang tidak dibenarkan.

1. Shalat memiliki batas waktu yang wajib dijaga.

Setiap shalat fardu memiliki awal dan akhir waktu. Karena itu, seseorang tidak boleh dengan sengaja mengabaikan shalat hingga waktunya habis hanya karena kesibukan duniawi.

Kesibukan pekerjaan, belajar, atau aktivitas lainnya seharusnya tidak membuat seseorang meninggalkan kewajiban yang telah ditetapkan Allah SWT.

2. Menunda shalat selama masih dalam waktunya pada dasarnya diperbolehkan.

Tidak semua shalat harus langsung dikerjakan tepat setelah azan. Selama masih berada dalam waktunya dan tidak ada larangan khusus, seseorang masih diperbolehkan menunaikannya.

Namun, berusaha melaksanakan shalat di awal waktu memiliki keutamaan yang besar. Karena itu, jangan menjadikan kelonggaran waktu sebagai alasan untuk terus menunda-nunda.

3. Sengaja menunda hingga keluar waktu tanpa uzur tidak dibenarkan.

Jika seseorang sengaja menunda shalat sampai waktunya habis hanya karena pekerjaan atau aktivitas yang sebenarnya dapat ditinggalkan, maka hal tersebut merupakan perbuatan yang serius.

Seorang muslim hendaknya segera melaksanakan shalat ketika memiliki kesempatan dan tidak membiarkan kesibukan dunia menyebabkan kewajiban kepada Allah terabaikan.

4. Ada kondisi tertentu yang menjadi uzur syar’i.

Islam adalah agama yang memberikan kemudahan. Dalam keadaan tertentu, seperti sakit, perjalanan, atau kondisi khusus lainnya, terdapat rukhsah yang diatur dalam fikih.

Contohnya, orang yang sedang bepergian dapat memiliki ketentuan khusus terkait shalat, termasuk jamak dan qashar dalam kondisi yang memenuhi syarat. Kemudahan tersebut menunjukkan bahwa syariat mempertimbangkan keadaan seorang hamba tanpa menghilangkan kewajiban shalat.

5. Kesibukan seharusnya diatur mengikuti waktu shalat.

Daripada menjadikan pekerjaan sebagai alasan untuk menunda shalat, seorang muslim sebaiknya mengatur jadwal berdasarkan waktu ibadah. Ketika waktu shalat tiba, sisihkan beberapa menit untuk menghadap Allah SWT.

Kebiasaan ini bukan hanya menjaga kewajiban, tetapi juga melatih kedisiplinan dan mengingatkan bahwa kesibukan dunia tidak boleh mengalahkan kewajiban kepada Sang Pencipta.

Jangan Sampai Kesibukan Membuat Shalat Terlupakan

Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah. Beliau menjawab:

“Shalat pada waktunya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan tingginya kedudukan menjaga shalat sesuai waktunya. Karena itu, ketika pekerjaan menumpuk atau aktivitas terasa padat, jangan langsung menjadikan shalat sebagai sesuatu yang dapat ditunda tanpa batas.

Bahkan, shalat dapat menjadi waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, menenangkan hati, dan kembali mengingat tujuan hidup sebagai seorang hamba.

Jadikan Shalat sebagai Prioritas Utama

Kesibukan adalah bagian dari kehidupan, tetapi kewajiban kepada Allah SWT tetap harus menjadi prioritas. Selama tidak ada uzur syar’i, berusahalah melaksanakan shalat dalam waktunya dan jangan sengaja menundanya hingga mendekati batas akhir.

Mulailah dengan membuat pengingat waktu shalat, menyediakan perlengkapan shalat di tempat kerja, serta mengatur jadwal agar tidak berbenturan dengan waktu ibadah. Dengan demikian, kesibukan tidak lagi menjadi penghalang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Selain memperbaiki kualitas shalat, teruslah memperdalam ilmu agama agar setiap ibadah dapat dilakukan sesuai tuntunan syariat. Temukan lebih banyak artikel Islami yang membahas shalat, Al-Qur’an, fikih, doa, sedekah, zakat, puasa, hingga inspirasi kehidupan muslim hanya di Alfatihah.com.

Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk selalu menjaga shalat dan tidak menjadikan kesibukan dunia sebagai alasan untuk lalai dari kewajiban. Aamiin.

Penulis: Santi Puspita Ningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Chat WhatsApp
Admin Saskia