Alfatihah.com – Legenda timun mas mengangkat sebuah kisah buto ijo yang menagih janji pada seorang janda. Dalam cerita tersebut menceritakan seorang janda yang sangat menginginkan anak hingga membuat kesepakatan dengan sesosok raksasa yang dikenal sebagai buto ijo.
Dalam kesepakatan tersebut buto ijo memberinya sebuah biji mentimun, dengan syarat ketika anak tersebut lahir maka harus diserahkan padanya. Rasa sayang pada anaknya membuat janda tersebut rela melanggar kesepakatan demi tetap bersamanya. Cerita tersebut terdapat unsur akad yang tidak ditepati, meskipun dengan kasih sayang ibu di dalamnya.
Islam mengajarkan bahwa janji atau kesepkatan merupakan bagian dari amanah yang wajib untuk dijaga dan diingat. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Isra: 34
وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗۖ وَاَوْفُوْا بِالْعَهْدِۖ اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔوْلًا
Artinya: Janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan (cara) yang terbaik (dengan mengembangkannya) sampai dia dewasa dan penuhilah janji (karena) sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.
Setiap janji wajib dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat, begitupun konsekuensinya. Dalam ajaran Islam seorang muslim tidak boleh meremehkan janji, baik kepada manusia maupun pada Allah.
Rasulullah SAW menekankan pentingnya menepati sebuah kesepakatan. Seperti yang diriwayatkan dalam hadits shahih Bukhari, bahwa salah satu ciri orang munafik yaitu seseorang yang suka mengingkari kesepakatannya.
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: 1. Setiap kali dia berbicara, dia berbohong. 2. Setiap kali dia berjanji, dia selalu mengingkari (janji-nya). 3. Jika kamu mempercayainya, dia terbukti tidak jujur. (Jika kamu menitipkan sesuatu kepadanya, dia tidak akan mengembalikannya.)”
Ingkar dalam kesepakatan tidak hanya sekedar kesalahan kecil, tetapi termasuk sifat tercela yang dapat merusak keimanan seseorang. Seseorang dapat dipercaya melalui omongan dan tindakan pembuktiannya.
Kisah Timun Mas jika ditinjau dari sudut pandang Islam, kesepakatan yang dibuat oleh sang ibu dengan buto ijo memiliki beberapa catatan penting seperti:
Ibu Timun Mas terpaksa meminta sesuatu pada Buto Ijo karena dirinya terdesak sangat menginginkan seorang anak, pada akhirnya terbentuklah kesepakatan tersebut. Islam tidak membebani seseorang atas sesuatu yang dilakukan secara terpaksa. Ketika seseorang dipaksa atau tertekan maka tanggung jawabnya berbeda.
Janji yang dibuat dalam keadaan terpaksa perlu ditinjau kembali secara hukum. Dalam Islam, akad yang membawa kemudharatan tidak wajib ditepati jika kesepakatan tersebut dapat membahayakan nyawa seseorang atau merugikan orang lain.
Menyerahkan anak kepada makhluk yang akan berlaku jahat maka bentuk perbuatan yang salah. Hal seperti itu sangat bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan agama. kesepakatan yang mengarah pada kemaksiatan tidak wajib untuk di tepati.
Kesepakatan yang membuat seseorang berbuat zalim dan membahayakan, Islam membolehkan untuk mencari jalan keluar yang lebih baik dengan disertai taubat dan penyesalan.
Dalam kisah Timun Mas sang ibu melanggar kesepakatan tersebut dengan cara menolong anaknya dari Buto Ijo, tindakan yang dilakukan oleh sang ibu tepat dan dibenarkan secara syariat karena bertujuan untuk menyelamatkan nyawa dan menghindar dari kezaliman. Usaha yang dilakukan sang ibu merupakan bentuk dari taubat untuk memperbaiki diri.
Itulah pembahasan legenda Timun Mas dimana terdapat janji yang tidak ditepati. Dari kisah tersebut memberi pelajaran dalam kehidupan terkait pentingnya berhati-hati dalam membuat kesepakatan. Setiap akad yang dibuat harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.
Kita juga dapat melihat perjuangan yang telah dilakukan oleh ibu Timun Mas menunjukkan besarnya kasih sayang orang tua pada anaknya. Tindakan dan upaya yang dilakukan merupakan bentuk dari ikhtiar.
Penulis: Lintang Suryaningrum