Alfatihah.com – Tumbal pesugihan dalam kepercayaan masyarakat merupakan seseorang yang menjadi korban dalam praktik pesugihan. Dalam praktiknya konon katanya dibutuhkan tumbal dengan ketentuan yang berbeda, salah satu tumbal yang dibutuhkan yaitu menyerahkan nyawa manusia.
Banyak rumor yang menyebar jika seseorang yang menjadi tumbal pesugihan akan meninggal secara tak wajar dan ruhnya menjadi tidak tenang. Spekulasi yang beredar mengatakan jika ruh yang tidak tenang disebabkan karena ruh tersebut masih tertahan dan tidak bisa ke tempat yang seharusnya.
Pesugihan sendiri merupakan praktik mencari kekayaan melalui bantuan jin atau makhluk halus, biasanya disertai dengan ritual di tempat tertentu. Dalam Islam praktik pesugihan tentunya perbuatan syirik, permohonan yang dilakukan selain kepada Allah dan bersekutu dengan syaitan.
Islam sangat melarang umatnya untuk mendekati perbuatan syirik atau melakukan persekutuan dengan selain Allah. Melakukan pesugihan dengan tujuan untuk meminta kekayaan kepada suatu makhluk bukan kepada Allah, merupakan perbuatan dosa besar.
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia yang meninggal dunia maka dirinya akan memasuki sebuah alam yang disebut alam barzakh. Seluruh manusia akan berada di alam ini hingga hari akhir itu tiba. Ketika manusia telah meninggal dunia, maka rohnya tidak bisa secara bebas berkeliaran ataupun tertahan oleh jin atau manusia.
Seseorang yang menjadi tumbal pesugihan tanpa dirinya tahu, maka termasuk dalam golongan orang yang terzalimi. Orang yang dizalimi, memiliki kedudukan mulia di sisi Allah SWT. Seperti sabda Rasulullah SAW
اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Artinya: “Hati-hatilah terhadap doa orang yang teraniaya, karena tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.” (HR. Al-Bukhari)
Korban dari pesugihan tidak akan menanggung dosa pelaku, melainkan dia akan mendapat pahala kesabaran dan keadilan dari Allah kelak di akhirat. Kepercayaan terkait korban akan gentayangan biasanya muncul karena pengaruh budaya lokal, cerita dari turun temurun, kurangnya pemahaman agama.
Dalam Islam, rezeki diatur oleh Allah SWT, bukan dari jin atau makhluk gaib. Hal ini telah Allah firmankan pada QS. Adz-Dzariyat ayat 22:
وَفِى السَّمَاۤءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ
Artinya: “Di langit terdapat pula (hujan yang menjadi sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
Allah telah menjanjikan kepada manusia akan rezeki dari nya, tugas kita adalah menjemput rezeki tersebut. Rezeki dari Allah dapat diperoleh melalui kerja keras, kejujuran, doa, bertawakal, dan selalu bersedekah. Menjemput rezeki dari Allah dijemput melalui jalan yang benar, bukan melalui jalur syirik atau adanya perjanjian dengan makhluk halus.
Seseorang yang mengambil jalur pintas untuk menjemput rezeki hingga melakukan persekutuan dengan jin, dirinya tidak hanya berdosa akan tetapi juga membawa dampak buruk seperti hilangnya keberkahan harta, ketentraman hidup terganggu, rusaknya hubungan keluarga, ancaman siksa akhirat.
Itulah pembahasan terkait tumbal pesugihan yang konon katanya ruhnya tetahan. Perlu diingat bahwa harta yang diperoleh melalui cara yang haram tidak akan membawa kebahagiaan sejati.
Penulis: Lintang Suryaningrum