Alfatihah.com – Akhir-akhir ini ramai pembahasan mengenai fenomena fatherless oleh warganet di media sosial. Ternyata, Indonesia menduduki urutan ketiga negara dengan tingkat fatherless country yang dimana seorang anak tidak merasakan sosok ayah di kehidupannya.
Lalu mengapa fenomena fatherless di Indonesia tinggi? Faktanya, dari beberapa survey yang dilakukan banyak seorang anak yang ayahnya masih hidup namun merasa menjadi seorang yatim karena ayahnya ada secara fisik namun tidak hadir dalam psikologis.
Fatherless merupakan sebuah permasalahan yang dihadapi hampir sebagian anak di seluruh dunia. Jika dimaknai lebih lanjut, fatherless merupakan ketidakhadiran figur ayah di dalam kehidupan seorang anak baik secara fisik maupun psikologis atau salah satunya.
Istilah dan fenomena fatherless pertama kali muncul dan diciptakan oleh Edward Elmer Smith. Ia menjelaskan bahwa fatherless merupakan istilah yang diberikan pada anak yang hanya tumbuh bersama asuhan ibu tanpa figur seorang ayah.
Figur ayah di dalam kehidupan seorang anak sangatlah penting terutama di masa pertumbuhan sang anak yang dimana tumbuh kembangnya juga di pengaruhi oleh pengasuhan dari ayah.
Penyebab terjadinya fenomena fatherless ini ada bermacam-macam, seperti ayah yang sibuk bekerja sehingga tidak ada waktu untuk anak, orang tua yang bercerai dan anak tinggal bersama ibu, kurangnya edukasi dan juga rasa simpati.
Manfaat keterlibatan figur seorang ayah bagi anak tentu mempengaruhi segala aspek di kehidupan anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. David Ponenoe, “ayah yang terlibat langsung dalam pengasuhan anak akan memberi dampak positif yang besar.”
Adapun beberapa manfaat lain keterlibatan figur ayah bagi anak yaitu:
Seorang anak yang hidup dengan figur ayah akan mempengaruhi sikap dan emosionalnya dalam segala hal. Kedekatan ayah bagi anak akan membuat anak memiliki sikap yang tanggap, luwes, mandiri, dan berani
Seorang anak yang lebih dekat dengan ayahnya tentu memiliki kemampuan emosional yang baik karena ayah akan melatih anaknya bagaimana cara bersikap dan berperilaku agar bisa menghargai hubungannya dengan orang lain.
Figur seorang ayah yang bertanggung jawab juga akan mempengaruhi masa depan seorang anak. Anak akan memberikan hal yang sama kepada anaknya di masa depan kelak karena ayahnya memberikan contoh kualitas didikan yang baik.
Fenomena fatherless yang banyak terjadi pada anak tentunya memiliki dampak yang negatif bagi anak. Masalah ini juga menjadi salah satu faktor seorang anak tidak bersemangat dalam menjalani kehidupannya. Dampak dari fatherless dalam perspektif Islam yaitu:
Fenomena fatherless dalam Islam sangat mempengaruhi bagi anak karena anak akan kehilangan figur utama yang bisa membimbing dalam agama Islam. Apabila tidak ada yang membimbing anak mudah tersesat ke dalam pergaulan bebas.
fatherless membuat seorang anak tidak memiliki tempat berlindung dari rasa amannya. Anak merasa tidak memiliki sosok yang bisa melindungi, padahal ayah merupakan pelindung utama bagi keluarganya.
Kemiskinan struktural bisa terjadi ketika keluarga tidak memiliki figur seorang kepala keluarganya. Hal tersebut juga telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ…
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka kekhawatirkan terhadap kesejahteraan mereka. (QS. An-Nisa: 9)
Itulah tadi pengertian mengenai fatherless, manfaat keterlibatan figur ayah bagi anak, dan juga dampak fatherless dalam Islam. Figur seorang ayah sangatlah penting bagi anaknya karena kehadiran peran sosok ayah akan mempengaruhi tumbuh kembang anaknya.
Baca Juga: Peran Ayah Dalam Pandangan Islam, Tidak Hanya Memberi Nafkah!
Penulis: Suci Wulandari