Alfatihah.com – Semakin banyak ilmu yang dipelajari, semakin luas pula pemahaman seseorang tentang kehidupan. Namun, bertambahnya pengetahuan seharusnya tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, ilmu semestinya membantu kita memahami bahwa setiap manusia memiliki keterbatasan dan masih membutuhkan banyak pelajaran.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap merendahkan orang lain bisa muncul tanpa disadari. Merasa paling benar ketika berdiskusi, meremehkan pendapat seseorang, atau menganggap orang yang kurang memahami sesuatu sebagai pribadi yang tidak berharga merupakan beberapa contohnya. Padahal, ilmu bukan alasan untuk menyombongkan diri, melainkan jalan untuk memperbaiki akhlak.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 37:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra: 37)
Seseorang yang terus belajar akan menyadari bahwa pengetahuan yang dimilikinya belum mencakup seluruh hal. Selalu ada sesuatu yang belum dipahami, sudut pandang yang belum diketahui, dan pengalaman yang belum pernah dijalani. Kesadaran ini seharusnya menumbuhkan kerendahan hati, bukan rasa paling unggul.
Ketika bertemu orang yang memiliki pemahaman berbeda, cobalah mendengarkan sebelum menilai. Kita boleh mengoreksi kekeliruan, tetapi tidak perlu merendahkan orangnya. Sebab, tujuan ilmu adalah mendekatkan kita kepada kebenaran, bukan menjadikan kita merasa paling benar.
Tidak semua orang memperoleh kesempatan belajar yang sama. Ada yang tumbuh dengan akses pendidikan yang baik, sementara yang lain harus menghadapi berbagai keterbatasan. Karena itu, perbedaan pengetahuan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempermalukan atau meremehkan seseorang.
Alih-alih mengejek orang yang belum memahami sesuatu, kita bisa membantu menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dipahami. Sikap ini menunjukkan bahwa ilmu tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana untuk memberikan manfaat kepada sesama.
Pengetahuan yang luas belum tentu membuat seseorang bersikap baik apabila tidak disertai usaha memperbaiki diri. Seseorang mungkin mampu menjelaskan banyak hal, tetapi tetap menyakiti orang lain melalui perkataan, sikap, atau keinginannya untuk selalu menang dalam perdebatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita untuk menjaga perkataan, termasuk ketika menyampaikan ilmu. Kebenaran tetap perlu disampaikan, tetapi dengan cara yang baik dan tidak bertujuan menjatuhkan martabat orang lain.
Ilmu, gelar, jabatan, dan pencapaian bukan alasan untuk menganggap diri lebih mulia daripada orang lain. Dalam Islam, kemuliaan manusia berkaitan dengan ketakwaannya kepada Allah, bukan sekadar banyaknya pengetahuan atau pengakuan dari sesama manusia.
Karena itu, ketika ilmu bertambah, periksalah kembali sikap dan niat kita. Apakah pengetahuan tersebut membuat kita lebih sabar, lebih bijak, dan lebih mudah menghargai orang lain? Atau justru membuat kita semakin senang menunjukkan kekurangan orang lain?
Ilmu yang bermanfaat tidak hanya terlihat dari apa yang mampu dijelaskan, tetapi juga dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Semakin banyak yang dipelajari, semakin penting pula menjaga hati agar tidak dikuasai kesombongan.
Mari terus belajar tanpa merasa paling tahu, menyampaikan kebenaran tanpa menghina, dan menghargai orang lain tanpa harus menyetujui semua pendapatnya. Semoga Allah menjadikan ilmu kita sebagai jalan untuk memperbaiki akhlak dan mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin.
Temukan lebih banyak artikel Islami tentang akhlak, ilmu, syukur, rezeki, doa, shalat, sedekah, Al-Qur’an, kisah teladan, parenting Islami, hingga inspirasi kehidupan Muslim hanya di Alfatihah.com.
Penulis: Santi Puspita Ningrum