Alfatihah.com – Adzan terdengar ketika pekerjaan sedang menumpuk. Ada pesan yang belum dibalas, tugas yang belum selesai, rapat yang masih berlangsung, atau pekerjaan rumah yang belum beres. Dalam kondisi seperti ini, menunda shalat terkadang terasa mudah dilakukan.
Padahal, shalat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Kesibukan bukan berarti harus ditinggalkan, tetapi perlu diatur agar kewajiban kepada Allah tetap mendapatkan perhatian.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa shalat memiliki waktu yang telah ditetapkan. Lalu, mengapa shalat perlu diprioritaskan ketika adzan terdengar di tengah pekerjaan?
Berbeda dengan beberapa ibadah yang dapat dilakukan secara lebih fleksibel, shalat fardu memiliki waktu pelaksanaan yang telah ditentukan. Karena itu, seorang Muslim perlu memperhatikan masuk dan berakhirnya waktu shalat.
Kesibukan memang penting, tetapi pekerjaan seharusnya tidak membuat seseorang lupa terhadap kewajiban. Mengatur pekerjaan di sekitar waktu shalat dapat menjadi bentuk kesungguhan dalam menjaga ibadah.
Membiasakan diri berhenti sejenak ketika waktu shalat tiba juga membantu membangun kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.
Pekerjaan dapat menyita banyak perhatian. Ketika seseorang terlalu fokus mengejar target, terkadang seluruh pikiran hanya tertuju pada urusan dunia.
Adzan menjadi pengingat bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih luas. Ada hubungan dengan Allah yang juga perlu dijaga.
Allah SWT berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Shalat menjadi salah satu cara untuk kembali mengingat tujuan tersebut di tengah kesibukan.
Pekerjaan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Tekanan, kesalahan, tenggat waktu, dan berbagai persoalan dapat membuat pikiran terasa penuh.
Shalat memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak dari aktivitas dan menghadap Allah. Bukan berarti setiap persoalan langsung hilang setelah shalat, tetapi seseorang memiliki kesempatan untuk menenangkan diri dan kembali menata pikiran.
Jeda tersebut dapat membuat seseorang kembali menjalani pekerjaan dengan lebih teratur tanpa terus terbawa tekanan.
Memprioritaskan shalat bukan berarti mengabaikan tanggung jawab pekerjaan. Justru, seseorang perlu belajar mengatur keduanya dengan baik.
Ketika waktu shalat diperhatikan, pekerjaan dapat disusun dengan lebih teratur. Tugas yang dapat diselesaikan lebih awal dapat dikerjakan terlebih dahulu, sementara aktivitas yang memungkinkan ditunda dapat dilanjutkan setelah shalat.
Rasulullah ﷺ juga menjadikan shalat sebagai perkara yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, ketika ditanya tentang amalan yang paling dicintai Allah, beliau menyebut shalat pada waktunya.
Hadis tersebut menjadi pengingat agar seorang Muslim tidak menganggap shalat sebagai aktivitas yang hanya dilakukan ketika semua pekerjaan telah selesai.
Adzan di tengah pekerjaan mungkin terasa seperti sesuatu yang mengharuskan kita berhenti sejenak. Namun, jika dilihat dari sisi yang berbeda, adzan justru merupakan pengingat agar kehidupan tidak hanya dipenuhi urusan dunia.
Pekerjaan tetap perlu diselesaikan dengan amanah. Tanggung jawab tetap harus dijalankan. Namun, ketika waktu shalat tiba, ada kewajiban yang juga perlu diberikan tempat.
Membiasakan shalat tepat waktu dapat dimulai dari hal sederhana: mengenali jadwal shalat, menyusun pekerjaan dengan lebih teratur, dan tidak membiasakan menunda tanpa alasan yang dibenarkan.
Selain terus belajar tentang shalat dan kewajiban seorang Muslim, jangan berhenti menambah ilmu agama agar kehidupan semakin terarah. Temukan lebih banyak artikel Islami tentang akhlak, rezeki, doa, shalat, sedekah, zakat, Al-Qur’an, kisah teladan, parenting Islami, hingga inspirasi kehidupan muslim hanya di Alfatihah.com.
Semoga Allah memudahkan kita menjaga shalat tepat pada waktunya dan menjadikannya bagian yang selalu diprioritaskan dalam kesibukan sehari-hari. Aamiin.
Penulis: Santi Puspita Ningrum