Alfatihah.com – Rasulullah ﷺ dikenal sebagai sosok yang memiliki akhlak paling mulia. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul, beliau telah dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, santun, dan dapat dipercaya.
Kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba setelah menerima wahyu. Sejak masa kanak-kanak, kehidupan beliau telah melewati berbagai pengalaman yang membentuk pribadi yang penuh kasih sayang, sabar, dan kuat menghadapi keadaan.
Allah SWT berfirman:
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)?”
(QS. Ad-Duha: 6)
Rasulullah ﷺ lahir dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahb. Ayah beliau wafat sebelum Rasulullah ﷺ lahir. Setelah beberapa waktu diasuh oleh ibunya, Rasulullah ﷺ kembali mengalami kehilangan ketika Aminah wafat saat beliau berusia sekitar enam tahun.
Setelah itu, beliau berada dalam asuhan kakeknya, Abdul Muthalib. Tidak lama kemudian, kakeknya juga wafat dan Rasulullah ﷺ kemudian diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Kehilangan orang-orang terdekat sejak kecil tentu bukan pengalaman yang mudah. Namun, ujian tersebut tidak menjadikan Rasulullah ﷺ tumbuh sebagai pribadi yang keras. Sebaliknya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk kelembutan dan kepedulian beliau terhadap orang lain, termasuk kepada anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan.
Salah satu kisah masa kecil Rasulullah ﷺ adalah ketika beliau menggembala kambing. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali ia pernah menggembala kambing.”
(HR. Bukhari)
Rasulullah ﷺ juga pernah menggembala kambing milik penduduk Makkah dengan mendapatkan upah.
Menggembala merupakan pekerjaan sederhana, tetapi membutuhkan kesabaran dan tanggung jawab. Seorang penggembala harus menjaga hewan yang berada dalam tanggungannya agar tidak tersesat dan memastikan semuanya kembali dengan selamat.
Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa tanggung jawab dapat dilatih sejak dini. Pekerjaan sederhana yang dilakukan dengan amanah juga dapat menjadi bagian dari pembentukan akhlak mulia.
Rasulullah ﷺ dikenal masyarakat Makkah sebagai pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Karena sifat tersebut, beliau mendapat gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya.
Kepercayaan itu terbentuk dari kebiasaan beliau menjaga perkataan, amanah, dan hubungan dengan orang lain.
Salah satu bukti kepercayaan masyarakat kepada Rasulullah ﷺ terjadi ketika Ka’bah direnovasi. Saat itu, para kabilah Quraisy berselisih mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad.
Ketika Rasulullah ﷺ menjadi penengah, beliau memberikan solusi yang adil. Hajar Aswad diletakkan di atas kain, kemudian para pemimpin kabilah diminta mengangkatnya bersama-sama. Setelah sampai di tempatnya, Rasulullah ﷺ mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa kejujuran dan kepercayaan yang dibangun sejak lama dapat menjadi bekal dalam menyelesaikan persoalan dengan bijaksana.
Kisah masa kecil Rasulullah ﷺ bukan sekadar cerita sejarah. Ada pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengenal kisah masa kecil Rasulullah ﷺ seharusnya tidak berhenti pada rasa kagum. Kisah tersebut dapat menjadi pengingat untuk menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar berkata jujur, menjaga amanah, menyayangi anak yatim, membantu orang yang membutuhkan, serta bertanggung jawab terhadap pekerjaan merupakan bentuk usaha untuk meneladani Rasulullah ﷺ.
Semakin banyak kita mengenal kehidupan Rasulullah ﷺ, semakin besar pula keinginan untuk mengikuti teladan yang beliau contohkan.
Mari terus belajar mengenal Rasulullah ﷺ, memperbanyak shalawat, mempelajari sirah, serta berusaha menerapkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Temukan berbagai artikel Islami lainnya di Alfatihah.com, mulai dari pembahasan tentang sirah Nabi, akidah, tauhid, shalat, Al-Qur’an, doa, sedekah, zakat, hingga berbagai pengingat kebaikan yang dapat menemani perjalanan kita dalam menjadi muslim yang lebih baik.
Semoga Allah SWT menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ di dalam hati kita, memudahkan kita mengikuti sunnah beliau, dan menjadikan akhlak beliau sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin.
Penulis: Santi Puspita Ningrum