Alfatihah.com – Dewasa seringkali dikaitkan dengan usia. Namun banyak yang keliru tentang memaknai apa itu maksud yang sebenarnya. Padahal kedewasaan seseorang justru dilihat dari cara berpikir, bersikap, dan menerima hidup. Seperti yang tersirat dalam lirik lagu milik barasuara “Dewasa Mengubah Cara Pandang dan Keikhlasan”.
Melalui penggalan lirik tersebut seperti gambaran bahwa kedewasaan tidak hanya perihal bertambahnya usia melainkan bagaimana cara seseorang menerima sebuah ujian dengan lapang dada. Konsep seperti ini, dalam Islam memiliki makna yang mendalam dan sejalan dengan nilai-nilai keimanan.
Islam mengajarkan bahwa kedewasaan seseorang dinilai bukan hanya dari fisik atau usianya, namun juga dari kematangan iman dan akhlak. Kedewasaan seorang muslim biasanya identik dengan kemampuannya dalam mengendalikan emosi. Berusaha untuk tidak menyalahkan orang lain atas suatu masalah.
Ditandai juga dengan caranya dalam mengambil keputusan secara bijak, serta caranya bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat. Semua hal tersebut lahir dari kematangan spiritual.
Kedewasaan seseorang dapat terlihat salah satunya melalui cara orang tersebut menyikapi sebuah masalah. Seseorang yang belum matang secara iman cenderung menganggap sebuah masalah menjadi beban. Berbeda ketika iman seseorang mulai bertambah, dirinya akan menganggap jika masalah tersebut merupakan ujian dari Allah SWT.
Seperti firman Allah pada QS. Al-Insyirah ayat 6:
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرً
Artinya: “Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan”.
Allah SWT memberikan ujian kepada hambanya beserta jalan keluarnya. Seseorang yang sudah matang secara spiritual akan lebih fokus dengan hikmah bukan hanya pada penderitaan yang sedang dialaminya. Terkadang manusia sepintas terpikirkan bahwa dirinya tidak mampu dengan cobaan yang dihadapinya tanpa terpikirkan kejutan dibaliknya.
Perlu untuk mengubah sudut pandang agar lebih mudah bersyukur, tidak berlarut dalam kesedihan, tetap optimis, serta memiliki mental yang kuat. Memiliki itu semua akan membuat seseorang menjadi siap dalam menghadapi setiap masalah.
Memiliki rasa ikhlas merupakan salah satu bagian utama yang harus dimiliki bagi kaum muslim. Menerima segala ketentuan Allah tanpa mengeluh dan mengharapkan pujian dari orang lain.
Kekecewaan biasa datang dari diri sendiri. Datangnya rasa kecewa berasal dari diri yang berharap pada seseorang dan rasa ingin dipuji. Keikhlasan akan datang ketika menyerahkan segala sesuatu hanya pada Allah, dan tetap berbuat baik meski telah disakiti orang lain. Hal tersebut bisa dilakukan ketika seseorang mulai matang secara spiritual.
Allah telah menetapkan segala sesuatu, manusia hanya diperintahkan untuk terus beriman, berusaha, dan berdoa kepadanya. Kedewasaan akan membawa manusia untuk mampu ikhtiar dan tawakal.
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: “dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3)
Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, beliau tetap bersabar meskipun dihina, disakiti, difitnah, bahkan diusir dari kampung halamannya. Beliau tidak pernah membalas ataupun membenci semua perlakuan tersebut, yang beliau lakukan malah mendoakan kebaikan pada orang yang telah menyakitinya.
Itulah pembahasan dibalik penggalan lirik dari barasuara “Dewasa Mengubah Cara Pandang dan Keikhlasan”. Meski perih dan sakit yang dirasa, seseorang akan siap dan ikhlas menghadapinya.
Penulis: Lintang Suryaningrum