Benarkah Jenazah Bisa Merasakan Sakit Setelah Meninggal? Ini Penjelasan Menurut Islam

Alfatihah.com – Jenazah atau sebutan lain untuk orang yang sudah dinyatakan meninggal. Banyak pernyataan di masyarakat yang mengatakan jika mengurus mayit atau jenazah harus dengan penuh kehati-hatian. Hal ini disebabkan konon katanya, mayit bisa merasakan sakit meskipun nyawanya telah tiada. 

Karena pernyataan tersebut, prosesi penyucian mayit dilakukan dengan penuh kelembutan. Namun muncul juga pertanyaan tentang apakah jenazah masih merasakan sakit juga muncul di masyarakat. Adakah penjelasan Islam mengenai hal ini?

Kehidupan Setelah Mati dalam Islam

Dalam ajaran Islam, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Setelah seseorang meninggal, manusia akan masuk kedalam alam barzakh, dimana alam tersebut sebagai alam penantian hingga tiba nya hari kiamat. Seperti pada firman Allah pada QS. Al-Mu’minun ayat 100:

لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

Artinya: “agar aku dapat beramal saleh yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada (alam) barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”

Di alam barzakh inilah manusia akan mengalami yang namanya siksa kubur, mereka akan merasakan azab kubur sesuai dengan amal perbuatan yang mereka lakukan selama hidup. Di alam ini banyak manusia yang telah meninggal memohon ampun pada Allah dan berharap dapat hidup kembali agar bisa memperbaiki hidupnya. 

Menurut mayoritas ulama, orang yang telah meninggal tetap memiliki bentuk kesadaran untuk hal tertentu. Kesadaran yang dimaksud bukanlah kesadaran selayaknya manusia bernyawa, akan tetapi mereka memiliki kesadaran akan rasa nikmat atau azab kubur, termasuk rasa sakit siksa kubur. 

Dalam beberapa hadits menunjukkan jika seseorang yang telah meninggal masih bisa menyadari tentang keadaan di sekitarnya. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam sebuah HR. Al-Bukhari:1338, dijelaskan bahwa mayit masih memiliki kesadaran setelah mereka dikuburkan. 

حَدَّثَنَا عَيَّاشٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، قَالَ وَقَالَ لِي خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا ابْنُ زُرَيْعٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ الْعَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ، أَتَاهُ مَلَكَانِ فَأَقْعَدَاهُ فَيَقُولاَنِ لَهُ مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فَيَقُولُ أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ‏.‏ فَيُقَالُ انْظُرْ إِلَى مَقْعَدِكَ مِنَ النَّارِ، أَبْدَلَكَ اللَّهُ بِهِ مَقْعَدًا مِنَ الْجَنَّةِ ـ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَيَرَاهُمَا جَمِيعًا ـ وَأَمَّا الْكَافِرُ ـ أَوِ الْمُنَافِقُ ـ فَيَقُولُ لاَ أَدْرِي، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ‏.‏ فَيُقَالُ لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ‏.‏ ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ ‏”‏‏.‏

Artinya: Nabi berkata, “Ketika seorang manusia diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya pergi, bahkan dia mendengar langkah kaki mereka, dua malaikat datang kepadanya dan membuatnya duduk dan bertanya: Apa yang kamu katakan tentang orang ini, Muhammad? Dia akan berkata: Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Kemudian akan dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempatmu di Neraka. Allah telah memberimu tempat di Surga sebagai gantinya.’ ” Nabi (semoga Allah memberkahi dan memberi keselamatan kepadanya) menambahkan, “Orang yang mati akan melihat kedua tempatnya. Tetapi orang kafir atau munafik akan berkata kepada malaikat, ‘Aku tidak tahu, tetapi aku bisa mengatakan apa yang dikatakan orang-orang!’ Akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak tahu dan tidak mengambil petunjuk (dengan membaca Al-Qur’an).’ Kemudian dia akan dipukul dengan palu besi di antara kedua telinganya, dan dia akan berteriak dan teriakan itu akan didengar oleh siapa pun yang mendekatinya kecuali manusia dan jin.”

Kemudian terkait prosesi penyucian jenazah yang harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian, hal itu dikarenakan seorang mayit tetap harus dihormati sebagai bentuk kehormatan. 

Penjelasan Ulama tentang Rasa Sakit Jenazah 

Imam An-Nawawi menjelaskan terkait hadits yang menyinggung tentang mematahkan tulang mayat dimana hal tersebut menunjukkan bahwa haram hukumnya menyakiti jenazah. Kehormatan manusia tetap berlaku meskipun dirinya telah tiada. 

Seseorang yang telah meninggal, ruhnya masih bisa merasakan nikmat dan azab. Terkadang hubungan ruh dan jasadnya di alam kubur, hal tersebut hanya diketahui Allah SWT. Seseorang yang masih bernyawa tidak dapat mengukur bagaimana rasa sakitnya di alam kubur, karena hal tersebut tidak bisa diukur melalui logika manusia.

Seseorang yang berdosa bisa mengalami yang namanya azab kubur, begitupun sebaliknya bahwa orang yang beriman akan mendapatkan kenikmatan kubur.

Itulah pembahasan terkait jenazah bisa merasakan rasa sakit setelah meninggal menurut Islam. Umat Islam dianjurkan untuk senantiasa memperbanyak amal saleh, menjaga adab terhadap jenazah, dan juga memohon perlindungan kepada Allah dari siksa kubur. 

Penulis: Lintang Suryaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Chat WhatsApp
Admin Saskia