Mengidolakan Idola Secara Berlebihan, Apakah Diperbolehkan dalam Islam?

Alfatihah.com Memiliki seorang idola di usia remaja merupakan hal yang wajar. Terlebih di era media sosial seperti sekarang, mengidolakan public figur, idol korea, atlet, tokoh tertentu, bahkan influencer. Mengagumi seseorang karena bakat yang dimiliki, rupa yang rupawan, bakat yang dimiliki, atau kepribadiannya yang memotivasi, hal itu lumrah terjadi.

Menyukai suatu hal memanglah bukan larangan atau masalah, namun akan berubah menjadi masalah ketika menyukai secara berlebihan. Sikap fanatik ini terkadang menjadikan seseorang kehilangan cara untuk dapat berpikir kritis, bahkan terkadang menyerang atau bahkan membully orang lain hanya untuk membela sang idola. 

Bagaimana Pandangan Islam Tentang Fanatisme Terhadap Idola?

Islam tidak pernah melarang untuk menyukai atau mengagumi seseorang. Justru Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mencontoh figur-figur yang mempunyai akhlak yang bagus. Islam memperbolehkan mengagumi seseorang asalkan masih dengan batas wajar. 

Menyukai dalam batas wajar berarti, mengagumi seseorang karena prestasi yang dirinya miliki. Menghargai hasil karyanya dan tetap sadar bahwa orang tersebut juga hanya manusia biasa. Kemudian juga bisa mentoleransi jikalau suatu hari orang tersebut berbuat salah atau keliru. 

Mengidolakan bukan berarti meniru apapun yang orang tersebut lakukan, tetap perlu membatasi diri dan jangan meniru atas maksiat yang telah dilakukan. Menjadikan idola sebagai tokoh inspiratif memang diperbolehkan, tetapi tetap jadikan iman sebagai prioritas utama dan kewajiban.

Mengidolakan menjadi larangan ketika disertai sikap berlebihan. Contoh yang paling sering kita temui di media sosial yaitu membela idola yang salah secara berlebihan hingga menyerang mental orang lain. Selain itu juga mengikuti gaya hidup yang jelas bertentangan dengan Islam. Sikap berlebihan seperti ini dilarang dalam Islam. 

Allah SWT telah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 171, untuk tidak berlebihan terhadap sesuatu:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗۚ اَلْقٰهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌۗ اِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۗ سُبْحٰنَهٗٓ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًاࣖ

Artinya: “Wahai Ahlul kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam (menjalankan) agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih, Isa putra Maryam, hanyalah utusan Allah dan (makhluk yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang Dia sampaikan kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.” Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya hanya Allahlah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung”.

Dalam ayat tersebut Allah SWT telah menegaskan agar tidak bersikap berlebihan dalam memandang agama atau terhadap suatu tokoh. Hal itu dapat merusak akidah, akal sehat, dan keadilan. 

Itulah pembahasan terkait mengidolakan idola secara berlebihan berdasarkan sudut pandang Islam. Perlu diingat bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk mengidolakan seseorang, asal masih di batas wajar dan tidak berlebihan. Islam mengajarkan keseimbangan untuk menghargai dan mencintai tanpa melampaui batas. 

Penulis: Lintang Suryaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Chat WhatsApp
Admin Saskia