Tertimpa Musibah? Berikut Ini Cara Menghapus Musibah Agar Tidak Menjadi Beban dalam Hidup

Alfatihah.com – Hidup di dunia tidak akan pernah terhindar dari yang namanya musibah. Musibah merupakan sebuah peristiwa yang tidak diinginkan oleh setiap orang dalam hidup karena didalamnya pasti ada kesulitan yang dilalui.

Musibah merupakan salah satu bentuk cobaan hidup dari Allah SWT yang bentuknya bermacam-macam seperti terkena kecelakaan, dilanda bencana alam, masalah yang menimbulkan banyak kesedihan, dan hal-hal lain yang sifatnya mengecewakan.

Islam memandang musibah dengan sisi yang berbeda karena musibah bisa menjadi salah satu bentuk cinta dan kasih sayang dari Allah SWT yang didalamnya terkandung banyak hikmah yang bisa dijadikan pengalaman hidup.

Cara Menghapus Musibah Agar Tidak Menjadi Beban Hidup

Musibah tidak akan pernah berhenti selama manusia hidup karena itu merupakan bagian dari proses manusia tumbuh dan dibentuk. 

Ujian hidup dan cobaan yang kita alami bisa menjadi salah satu cara Allah SWT untuk mencintai hamba-Nya. Berikut ini cara menghapus musibah agar tidak menjadi beban hidup:

Dalam kitab Sunan At-Tirmidzi disebutkan sebuah hadits yang berbunyi, 

عن عائِشَةَ قالتْ قالَ رسولُ الله ﷺ لا يُصِيبُ المُؤمِنَ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إلاّ رَفَعَهُ الله بِهَا دَرَجَةً وَحَطّ عَنْهُ بها خَطِيئَةً 

Artinya: Dari ‘Aisyah, Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang mukmin terkena duri atau yang lebih menyakitkan darinya kecuali Allah mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan.” (Hadist Riwayat Tirmidzi)

Dalam kitab Shahih Bukhari juga disebutkan, 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: Dari Abu Hurairah, dari Nabi, beliau bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan kelelahan, kekhawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesedihan bahkan duri yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (Hadist Riwayat Bukhari)

1. Melakukan Adzan

Salah satu hal yang disunahkan dilakukan saat seseorang terkena musibah adalah adzan. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya, Tuhfatul Muhtaj memaparkan beberapa keadaan disunnahkan mengumandangkan adzan di luar shalat, dan salah satunya adalah saat terjadinya musibah kebakaran. Berikut adalah paparan keterangan dari beliau: 

قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُود ، وَالْمَهْمُومِ، وَالْمَصْرُوعِ، وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ، أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ قِيلَ وَعِنْدَ إنْزَالِ الْمَيِّتِ لِقَبْرِهِ قِيَاسًا عَلَى أَوَّلِ خُرُوجِهِ لِلدُّنْيَا لَكِنْ رَدَدْته فِي شَرْحِ الْعُبَابِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ، وَهُوَ، وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ 

Artinya: “Disunnahkan adzan di selain akan melaksanakan shalat, yaitu 1) saat adzan untuk bayi yang baru lahir, 2) orang yang sedang bersedih hati, 3) orang yang menderita penyakit epilepsi, 4) orang yang sedang marah, 5) orang atau binatang yang memiliki perangai buruk, 6) saat perang sedang berkecamuk, 7) saat kebakaran, 8) dan dikatakan juga ketika menurunkan mayat pada liang kubur dengan mengqiyaskan saat awal terlahirnya ke dunia, namun aku (an-Nawawi) menentang kesunnahannya dalam syarh al-‘Ubab, 9) saat terdapat gangguan jin berdasarkan hadits yang shahih di dalamnya, 10) juga adzan dan iqamah dalam penyambutan musafir,” (Imam Ibnu Ḥajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah: 1357 H], juz I, hlm. 461). 

Namun meski demikian,  mengumandangkan adzan saat terjadinya bencana tersebut hanya sebatas amalan sunnah kifayah yang cukup dilakukan satu orang saja. Sehingga, selain orang satu yang mengumandangkan adzan tersebut diharapkan tetap fokus terhadap penanganan bencana, bukannya malah ikut adzan semua.

2. Mengucapkan Kalimat Tarji’

Amalan lain saat seseorang terkena musibah adalah mengucapkan kalimat istirja’ yang berbunyi, Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.  Imam Nawawi dalam kitabnya yang berjudul, Al-Adzkar memaparkan suatu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang mengatakan bahwa kita dianjurkan mengucapkan kalimat istirja’ tersebut saat terkena musibah, bahkan meskipun musibah tersebut tampak remeh, seperti ketika tali sandal kita lepas. Berikut riwayatnya:

 وروينا في كتاب ابن السني [رقم: ٣٥٤]، عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله ﷺ: «لِيَسْتَرْجِعْ أحَدُكُمْ فِي كُلِّ شَيْءٍ حتَّى فِي شِسْعِ نَعْلِهِ، فإنَّها مِنَ المَصَائِبِ». 

Artinya: Kami meriwayatkan dari kitabnya Ibnu Sunni, dari Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Hendaklah salah seorang dari kalian mengucapkan kalimat Istirja’ (Innalillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika mendapati sesuatu (musibah), bahkan hanya sekadar tali sandal yang terputus. Sebab, hal itu juga termasuk dari beberapa musibah.” (Imam Nawawi, Al-Adzkar, [Beirut, Darul Fikr: 1414 H], hlm. 126).   

Dari hadits di atas, Imam Al-Munawi dalam kitabnya, Faidhul Qadir memberikan keterangan sebagai berikut,  

(ليسترجع أحدكم في كل شيء حتى في) انقطاع (شسع نعله فإنها) الحادثة التي هي انقطاعه (من المصائب) التي جعلها الله سببا لغفران الذنوب 

Artinya: “Hendaklah salah seorang dari kalian mengucapkan kalimat Istirja’ (Innalillahi wa inna ilaihi raji’un) ketika mendapati sesuatu (musibah), bahkan hanya sekadar tali sandal yang terputus. Sebab, hal itu juga termasuk dari beberapa musibah, yang mana dapat mendatangkan ampunan Allah dari berbagai dosa.” (Imam Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah: 1356 H], jilid V, hlm. 355).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

ما مضى لا يُدفعُ بالحُزن ؛ بل بالرضا والحمد، والصبر، والإيمان بالقدر، وقول العبد قَدر الله وما شاء فعل

Artinya: “Musibah yang telah terjadi tidak bisa dihapus dengan kesedihan. Namun musibah tersebut bisa dihapus dengan rida (kerelaan hati), memuji Allah, sabar, beriman kepada takdir Allah, dan mengucapkan “Allah telah menakdirkan, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” [Kitab Zadul Ma’ad, 2/327]

Itulah tadi cara menghapus musibah sehingga musibah yang terjadi bukan menjadi beban hidup. Yakinlah jika Allah SWT tidak akan pernah memberikan masalah diluar batas kemampuan hamba-Nya. 

Jadikanlah musibah sebagai salah satu bentuk pembelajaran yang bisa dipetik dan menjadi jalan untuk belajar lebih sabar serta tegas dalam menghadapi ujian hidup.

Penulis: Suci Wulandari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Chat WhatsApp
Admin Saskia