
Alfatihah.com – Dalam islam, ada tiga jenis darah yang keluar dari tubuh wanita, yaitu haid, nifas, dan istihadhah. Haid dan nifas memiliki aturan tertentu yang membebaskan seorang wanita dari kewajiban sholat dan puasa. Namun, bagaimana dengan istihadhah? Apakah wanita yang mengalaminya tetap harus menjalankan ibadah seperti biasa? Simak artikel berikut ini!
Istihadhah adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita di luar waktu haid dan nifas. Darah ini bisa keluar karena gangguan kesehatan, ketidakseimbangan hormon, atau faktor lainnya. Sering disebut sebagai darah penyakit, karena bukan termasuk dalam kategori haid yang memiliki batasan waktu tertentu.
Wanita yang mengalami istihadhah tetap diwajibkan untuk melaksanakan sholat. Berbeda dengan haid dan nifas, ketika wanita mengalami hal ini tidak membebaskan seorang wanita dari kewajiban ibadah. Berikut adalah beberapa ketentuan sholatnya :
Wanita yang mengalami istihadhah harus berwudhu setiap kali masuk waktu sholat, tidak sah wudhunya jika dilakukan sebelum masuk waktu sholat. Hal ini tidak menghalangi kewajiban sholat. Namun, seorang wanita perlu menjaga kebersihan dan berwudhu setiap masuk waktu sholat.
Dianjurkan untuk membersihkan darah yang keluar sebelum sholat. Bisa dengan mengganti pembalut, mencuci area kewanitaan, dan memastikan tubuh serta pakaian tetap dalam keadaan suci.
Untuk menghindari darah mengenai pakaian, boleh menggunakan pembalut atau kapas agar tetap merasa nyaman saat beribadah.
Setelah berwudhu dan memastikan kebersihan diri, dapat melaksanakan sholat sebagaimana biasa tanpa ada keringanan seperti pada wanita haid.
Berbeda dengan haid yang membatalkan puasa, istihadhah tidak menjadi penghalang bagi wanita untuk berpuasa. Wanita yang mengalami masa tersebut tetap wajib menjalankan puasa Ramadan dan puasa sunnah jika ingin. Terdapat beberapa ketentuan berpuasanya, diantaranya :
Karena istihadhah bukan termasuk haid, wanita yang berpuasa dalam keadaan ini tidak perlu mengganti puasanya di lain waktu. Puasa yang dijalankan tetap sah dan diterima.
Sebagaimana dalam sholat, wanita yang mengalami istihadhah harus tetap menjaga kebersihan diri. Dianjurkan untuk membersihkan diri sebelum sahur dan berbuka, serta tetap menggunakan pembalut agar lebih nyaman saat menjalankan puasa. Boleh mengenakan pembalut namun tidak diperbolehkan menyumbat aliran darah menggunakan kapas ketika berpuasa karena akan membatalkan puasa.
Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan bahwa:
وَإِنْ كَانَتْ صَائِمَةً تَرَكَتْ الْحَشْوَ نَهَارًا وَاقْتَصَرَتْ عَلَى الْعَصْبِ مُحَافَظَةً عَلَى الصَّوْمِ لَا الصَّلَاةِ عَكْسُ مَا قَالُوهُ فِيمَنْ ابْتَلَعَ خَيْطًا؛ لِأَنَّ الِاسْتِحَاضَةَ عِلَّةٌ مُزْمِنَةٌ الظَّاهِرُ دَوَامُهَا فَلَوْ رُوعِيَتْ الصَّلَاةُ رُبَّمَا تَعَذَّرَ قَضَاءُ الصَّوْمِ وَلَا كَذَلِكَ ثَمَّ
“Bila ia berpuasa, maka (wajib) meninggalkan penyumbatan (vagina) di siang hari, cukup mengikatnya. Hal ini karena menjaga (kemaslahatan) puasa, bukan (kemaslahatan) shalat, berkebalikan dengan apa yang diucapkan ulama dalam kasus orang yang menelan benang. Sebab istihadhah adalah penyakit yang permanen, secara lahiriyyah akan terus wujud, bila (kemaslahatan) shalat dijaga, terkadang sulit mengqadha puasa. Alasan demikian ini tidak wujud dalam kasus menelan benang,” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj Hamisy Hasyiyah al-Syarwani, juz 1, hal. 393).
Itu dia penjelasan terkait hukum sholat dan puasa untuk wanita yang sedang mengalami istihadhah. Dari penjelasan diatas, darah yang keluar di luar waktu haid dan nifas, tidak membatalkan sholat maupun puasa. Seorang wanita tetap wajib menjalankan sholat dan puasa yang dilakukan tetap sah dan tidak perlu diqadha.
Baca Juga : Hukum Ruqyah dalam Islam: Kapan Diperbolehkan dan Kapan Dilarang?